RADAR JOGJA – Pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian alam, masih minim. Terutama terkait perlunya satwa dilindungi tetap hidup di habitat aslinya. Ini terbukti dengan ditemukannya enam kasus tindak pidana memelihara dan memperdagangkan satwa dilindungi sepanjang 2021. Para pelaku bahkan mengaku tidak tahu tindakannya itu melanggar hukum.

Kasubbid Penmas Bidhumas Polda DIJ AKBP Verena Sri Wahyuningsih menyebut, penyelamatan satwa dilindungi dan penegakan hukumnya dilakukan oleh Subdit Gakkum Ditpolair Polda DIJ bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIJ. Selama 2021 telah berhasil mengungkap enam kasus dengan enam tersangka.

“Dari temuan itu, disita lima ekor buaya muara (crocodylus porosus) dan 14 ekor labi-labi moncong babi (carettochelys insculpta),” ujar Verena dalam ungkap kasus di Mako Ditpolair Polda DIJ, Kretek, Bantul, Selasa (16/2).

Dalam ungkap kasus ini, dua dari enam tersangka ternyata merupakan pelajar yang berusia 17 tahun. Mereka adalah RRL, 17, warga Kasihan, Bantul; dan RR, warga Sabdodadi, Bantul. Keduanya memperniagakan buaya muara. “Perkara selesai melalui sidang diversi di tingkat penyidikan dikarenakan usia pelaku masih dalam kategori anak dan sudah dimintakan penetapan kepada ketua PN Bantul, sesuai sistem peradilan pidana anak,” paparnya.

Salah seorang pelaku mengaku mendapat buaya muara melalui Facebook. Pria ini memang menyukai hewan dan baru mencoba memelihara buaya muara selama dua minggu. “Baru coba, belum ada dua minggu, terus saya posting. Sebenarnya saya tidak berani dengan buaya,” jelasnya, saat ditanya oleh petugas.

Pelaku lain justru mengungkap buaya muara miliknya merupakan hasil barter dengan biawak yang sebelumnya dia pelihara. “Awalnya dapat dari Facebook, tukaran dengan biawak. Ada komunitas pecinta buaya muara di sekitar Solo Raya. Saya memelihara tiga bulanan. Awalnya tidak tahu, terus tahu (buaya muara merupakan satwa dilindungi, Red). Terlanjur pelihara, ya gimana,” cetusnya.

Sementara pelaku RYS menjelaskan, awalnya dia hanya berdagang ikan cupang. Kemudian mendapat tawaran labi-labi moncong babi. Pria 28 tahun ini pun menganggap satwa langka itu lucu, lantas membelinya. “Saya tidak tahu statusnya (legalitas labi-labi, Red) seperti apa. Kok lucu, terus saya beli. Saya pasarkan lagi,” beber warga Triharjo, Sleman, itu.

Akibat ulahnya, empat tersangka berinisial RCH, 25; RJS, 24; EKS, 28; dan RYS, 28 disangkakan Pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (2) huruf a UU No 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Mereka terancam penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta. (fat/laz)

Bantul