RADAR JOGJA – Pemahaman masyarakat yang minim tentang pentingnya menjaga kelestarian alam turut disesalkan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIJ Muhammad Wahyudi. Dia mengklaim, lembaganya tidak kurang-kurang melakukan penyuluhan.

“Jadi kami sampaikan, ini perlu sosialisasi. Kami berharap ke depan masyarakat lebih arif dan bijaksana untuk tidak memelihara satwa yang dilindungi,” sebutnya, usai ungkap kasus tindak pidana memelihara dan memperniagakan satwa dilindungi di Mako Ditpolair Polda DIJ.

Wahyudi pun menyebut, motif pelaku akan didalami oleh penyidik. Terkait adanya kemungkinan upaya mencari keuntungan dari pelaku. “Apakah sudah tahu, tapi mencari keuntungan. Jadi biarlah mereka (satwa liar, Red) di alam. Tidak usah ditangkap, pelihara apalagi diperjualbelikan. Kita, manusia dan satwa, harusnya berbagi ruang di bumi. Kita sama-sama tamu. Biarkan mereka di alam, supaya ekologi seimbang,” nasihatnya.

Disampaikan pula, pelanggaran terhadap satwa yang dilindungi dapat dikenakan sanksi sesuai perundangan berlaku. Ini untuk memutus perdagangan satwa dilindungi. Hal ini penting dilakukan guna menjaga ekosistem tetap seimbang. “Satwa yang dilindungi, jumlahnya sudah sangat berkurang di Indonesia,” cetusnya.

Selain itu, tidak diperkenankan memelihara satwa dilindungi. Setiap orang juga dilarang memiliki bagian dari satwa. Misal memiliki taring atau bulu dari satwa dilindungi. “Memiliki saja tidak boleh, apalagi memperjualbelikan. Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi yang dilakukan Ditpolair Polda DIJ untuk mengungkap kasus ini,” ucapnya.

Satwa dilindungi yang menjadi barang bukti dalam ungkap kasus pun segera ditranslokasi. Untuk selanjutnya dirilis sesuai dengan habitat aslinya. Lima buaya muara selanjutnya dikirim ke Malang, Jawa Timur. Sementara 14 labi-labi moncong babi akan dikirim ke Jayapura, Papua.

Diakui, BKSDA DIJ mengalami keterbatasan lokasi rilis satwa dilindungi. Sebab habitat asli yang cocok dengan beberapa satwa telah tergusur akibat aktivitas manusia. “Kendala kami pada tempat yang terbatas. Selama ini kami dibantu Gembira Loka Zoo, dan yayasan konservasi alam di Kulonprogo. Tapi kalau jumlahnya banyak, kami tidak bisa,” sebutnya.

Disebutkan pula, BKSDA DIJ hanya dapat menyediakan habitat asli bagi beberapa jenis burung yang dilindungi. “Di DIJ yang masih ada untuk burung, beberapa tempat ada di Gunung Merapi, Sermo, dan Jatimulyo,” ujarnya.
Ditambahkan Wakil Direktur (Wadir) Ditpolair Polda DIJ AKBP Azhari Juanda, perniagaan satwa dilindungi marak dilakukan secara online. Penanganan dapat dilakukan berkat laporan masyarakat dan pelaksanaan patroli cyber.

“Kami minta komponen masyarakat bila ada informasi perniagaan satwa dilindungi bisa menghubungi Polairud atau BKSDA. Sehingga saling memberikan informasi, mengingat satwa ini harus dilindungi dan tidak boleh dipelihara secara pribadi atau diperjualbelikan,” imbaunya.

Diungkap pula buaya muara diperdagangkan secara online dengan kisaran harga Rp 700 ribu sampai Rp 1,3 juta per ekor. Sementara labi-labi dihargai Rp 240 ribu per ekor. “Pemasaran sementara online. Dia tidak melihat daerah, seluruh orang bisa melihat dan dari mana pun bisa menawar. Pelaku ada dari Sleman dan Bantul. Semua didapat dari online, tidak ada tangkapan liar,” jelasnya. (fat/laz)

Bantul