RADAR JOGJA – Seekor Velociraptor setinggi dua meter menyambut di pintu masuk. Di sebelahnya bertengger Triceratops dengan tinggi sama, panjangnya mencapai tiga meter. Masuk lebih dalam, ada Tyrannosaurus Rex (T-Rex) setinggi empat meter dengan kepalanya terpenggal. Ya, kali ini Radar Jogja bertandang ke peternakan dinosaurus.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Peternakan ini berlokasi di Padukuhan Petet, Potorono, Banguntapan, Bantul. Peternakan ini adalah laboratorium. Tapi bukan laboratorium biologi, melainkan laboratorium teknik mesin. Semacam bengkel. Milik seorang pemuda berusia 21 tahun, bernama lengkap Muhammad Iqbal Firmansyah.
Iqbal, sapaan akrabnya, merupakan lulusan SMK jurusan teknik kendaraan ringan (TKR). Awalnya, dia iseng membuat animatronik dengan bahan dasar lateks dan silikon. Animatronik itu berupa dinosaurus yang dapat bergerak, menarik seseorang menggunakan gerobak.

“Dulu tahun 2018 ternyata rekaman videonya viral. Lalu banyak pelaku wahana yang menghubungi. Awalnya kami nggak niat untuk jual. Nggak terpikir kalau ini ternyata bisa dijual. Nah, kalau ada nilai ekonominya, kenapa nggak,” ucap penggemar kucing itu saat ditemui di rumah produksinya Minggu (7/2).

Dalam merintis usaha ini, Iqbal dibantu sang ayah, Soleh Hamdani. Awalnya, pesanan dikerjakan berdua. Tapi kini Iqbal harus mempekerjakan delapan orang lantaran kerap menerima pesanan lebih dari dua dinosaurus per bulan. Sementara produksi membutuhkan waktu sekitar dua minggu.

“Dibantu teman-teman, supaya beban kerja tidak berat. Kami mengerahkan anak-anak muda, maksimal usianya 23 tahun. Kalau konsep mekanis, bergeraknya, cuma kami (Iqbal dan Soleh yang mengerjakan, Red),” ujar pria yang mempelajari cara membuat animatronik secara otodidak itu.
Untuk dapat memperoleh bentuk animatronik sesuai harapan, Iqbal mempelajari kembali buku-bukunya semasa SMK. Lalu diimprovisasi dengan pengetahuan yang diperoleh dari kanal Youtube.

“Saya skets sendiri, dari bapak juga. Saya nggak suka-suka banget dinosaurus, biasa saja. Tapi banyak yang pesan dinosaurus. Ya, kami buat. Kalau mau buat bentuk yang lain bisa,” paparnya yang kini dapat mengkreasikan animatronik statis dan cosplay itu.

Dalam mekanisme improvisasi karya, biasanya Iqbal menyesuaikan dengan keinginan pemesan. Sejauh ini, ia mengaku tidak menemukan kendala berarti. Hanya kali pertama membuat animatronik statis, ia dibingungkan dengan penataan.

“Soalnya mekanisme butuh ruang. Kalau kami buat bagus, merusak anatomi hewan. Dulu kami buat yang bisa bergerak. Gerakannya bagus, tapi bentuk kakinya jelek. Jadi bagaimana membuat space kecil bisa cukup buat gerakin satu badan, itu yang susah. Sekarang sudah ketemu konsepnya, jadi langsung jalan saja,” ujarnya bangga.

Hasil karya Iqbal ini sudah tersebar di berbagai wilayah di Jawa. Dia menjual karyanya mulai dari Rp 5 juta untuk sebuah boneka tangan. Sampai animatronik dengan harga lebih dari Rp 100 juta. “Alhamdulillah ditekuni sudah tiga tahun produksi terus. Sempat mandeg Februari-Agustus karena pandemi ini. Tapi pesanan tetap ada,” ucapnya.

Soleh berbangga dengan kreativitas anaknya. Lulusan seni visual Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta itu bahkan mengungkap keunggulan karya anaknya. Pria 45 tahun ini menyalakan api di badan animatronik karya Iqbal. Ternyata, animatronik tidak terbakar, bahkan bekas bara pun tidak ada. “Ini 100 persen karya anak bangsa, dan safety. Tidak gampang terbakar,” sebutnya.

Bukan cuma itu, animatronik karya Iqbal juga dilengkapi kamera, kipas angin, monitor, dan tempat minum. Guna menunjang keamanan dan kenyamanan operator animatronik saat show. Tidak heran banyak yang tertarik dengan karya Iqbal. Bahkan, Iqbal mampu meraup omzet sampai Rp 600 juta per semester. (laz)

Bantul