RADAR JOGJA – Seorang kakek Saryono (63), warga salah satu dusun di Kapanewon (Kecamatan) Banguntapan, Bantul tega memperkosa anak berkebutuhan khusus (ABK) DA, (11) yang merupakan tetangganya sendiri. Tak sekadar pelecehan tapi hingga berhubungan badan layaknya suami istri.

Aksi yang dilakukan bapak tiga anak tergolong bejat. Selain bawah umur, korban DA adalah penderita disabilitas mental. Kondisi dimanfaatkan oleh Saryono untuk memuaskan nafsu bejatnya. Tak hanya sekali tapi sampai tiga kali.

“Anak itu (Da) sering nempel sama saya. Setiap hari nempel sama saya. Setiap (saya) duduk didepan rumah mendekati nempel dekati saya,” jelasnya saat ungkap rilis di Mapolres Bantul, Kamis (4/2).

Dalam beraksi, Saryono mengaku tak mengiming-imingi korbannya. Dia hanya memanfaatkan waktu saat keadaan rumahnya dan rumah korban sepi. Kebetulan rumah keduanya bersebelahan, tepatnya di Kapanewon Banguntapan.

“Tidak saya iming-imingi, cuma saya nafsu saat melihat dua. Melakukan dalam kurun waktu sebulan Januari itu. Sangat menyesal dan berdosa saya, tidak selesai menyesalnya,” katanya.

Kaur Bin Opsnal Satreskrim Polres Bantul Iptu Sutarja mengatakan pelaku sempat kabur pasca kejadian. Aksi pemerkosaan sendiri terjadi medio Januari 2020. Setelah kejadian tersebut, Saryono kabur ke daerah Lampung.

Terkait detil kejadian, pelaku, lanjutnya melakukan aksi asusila sebanyak 3 kali. Seluruhnya berada di sekitar rumah tersangka dan rumah korban di Banguntapan Bantul. Mulai dari kebun rumah, rumah tersangka hingga kamar tidur milik korban.

“Sangat dekat karena bertetangga, rumahnya hanya depan belakang. Korban memang sering main ke rumah tersangka. Lalu muncul kesempatan saat rumah sepi,” ujarnya.

Pasca kejadian, korban tidak langsung melapor kepada orangtuanya. Hanya saja sempat mengeluhkan sakit di sekitar alat kelamin. Kondisi ini justru pertama kali diketahui oleh tenaga kesehatan Puskesmas setempat. Tepatnya setelah pemeriksaan kesehatan atas keluhan.

“Awalnya keluarga juga kurang paham atas kondisi yang terjadi pada anaknya. Apalagi ibu korban kebetulan juga sakit parah. Lalu akhirnya atas dorongan masyarakat sekitar baru melapor September 2020. Pelapornya ibu korban sendiri,” katanya.

Penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Bantul Aipda Musthafa Kamal memastikan korban mendapatkan pendampingan khusus. Tak hanya medis tapi jugapantauan psikologis. Baik atas luka pasca kejadian maupun kondisi disabilitas mental korban.

Dari hasil pemeriksaan medis korban Tan mengalami kehamilan. Hanya saja Kamal memastikan bukan itu masalah utamanya. Tindakan asusila berupa pemerkosaan oleh tersangka Saryono sudah sangat menyalahi hukum.

“Dari hasil pemeriksaan medis tidak ada kehamilan, tapi keterangan medis terjadi persetubuhan. Jadi setelah aksinya itu, terasangka langsung kabur ke Lampung dan baru pulang ke Bantul akhir Januari ini,” ujarnya.

Mengetahui informasi kepulangan tersangka, tim Satreskrim Polres Bantul bergerak cepat. Hingga akhirnya Saryono berhasil ditangkap di kediamannya di Banguntapan Bantul. Selanjutnya menjalani penahanan hingga 21 Februari guna memudahkan penyidikan.

“Kami jerat dengan Pasal 81 UU RI No.17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU RI No.1 tahun 2016 tentang Perubahan kedua atas UU RI No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Sanksinya pidana maksimal 15 tahun. (dwi/sky)

Bantul