RADAR JOGJA – Pemkab Bantul mulai berhemat dalam menangani pandemi Covid-19. Sebelumnya pemkab menginstruksikan kalurahan untuk membangun shelter. Kali ini bantuan bagi keluarga yang anggotanya terkonfirmasi Covid-19 tidak didanai oleh pemkab.

“Kami melayani seperti itu (pemberian bantuan kepada keluarga yang anggotanya terkonfirmasi Covid-19, Red) di awal pandemi, bahkan diikuti oleh desa. Sekarang sudah tidak ada, karena tidak tahu, itu mau menggunakan dana mana. Kemampuan dana pemkab terbatas,” ungkap Sekretaris Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Bantul Sunarso saat dihubungi Selasa (2/2).

Kala itu pemkab melalui Dinsos P3A memberikan bantuan berupa sembako. Itu diberikan merata bagi warga terkonfirmasi Covid-19, baik bergejala ringan, berat, atau tidak bergejala. Sebab keluarga dan warga terkonfirmasi Coid-19 harus menjalani karantina. Sumber dananya, menggunakan belanja tidak terduga (BTT) Pemkab Bantul.

“Mulai tidak ada setelah BTT tidak ada dananya. Itu dana refocusing tahun 2020. Digunakan untuk dana sosial dan kegiatan. Sudah habis dananya, karena sudah ditutup Desember 2020. Untuk tahun 2021 masih berjalan normal,” paparnya.

Namun disebut terkonfirmasi Covid-19 yang meninggal, dapat menerima bantuan. Dinsos P3A akan memfasilitasi ke sana kepengurusannya. “Mengecek kesesuaian syarat untuk membuat rekomendasi, nanti kami fasilitasi ke Kementerian Sosial. Tahun ini masih ada. Besaran bantuan Rp 15 juta,” sebutnya.

Terpisah, Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Bantul Trisna Manurung menyebut, total Pemkab Bantul menggelontorkan dana sekitar Rp 115 miliar dalam menangani Covid-19. Dana itu dialirkan pada sektor kesehatan sebesar Rp 92 miliar. Pada sektor ekonomi dialirkan Rp 1,4 miliar. “Bidang sosial Rp 21,5 miliar,” sebutnya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul Helmi Jamharis pun menyebut, Pemkab hanya menanggung biaya warga terkonfirmasi Covid-19 yang dirawat di fasilitas kesehatan (faskes) yang bekerjasama dengannya. “Yang sakit di rawat di RS dan shelter pemkab akan menjadi tanggung jawab pemkab. Kebutuhan hariannya dibantu pemkab, baik makan minum, dan obat-obatan. Kebutuhan mandi kami juga sediakan. Tapi kalau di luar itu, kami tidak memberikan,” ujarnya. (fat/laz)

Warga Swadaya Bantu Sesama

Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kalurahan Bantul Kuswandi menyebut, kalurahannya melakukan swadaya. Lantaran Pemkab Bantul sudah tidak lagi memberikan bantuan bagi keluarga yang anggotanya terkonfirmasi Covid-19.

“Pada awal pandemi warga yang keluarga terkonfirmasi, mendapat bantuan sembako. Sekarang kami upayakan terus, baik pengurus RT atau padukuhan. Kami mandiri, swadaya dari masyarakat,” ungkapnya saat dihubungi Radar Jogja Selasa (2/2).

Kuswandi mengaku bersyukur berhasil menyamakan persepsi di masyarakatnya, sehingga terbangun kesadaran sampai di tingkat RT. “Alhamdulillah kami berhasil. Kesadaran masyarakat luar biasa dalam mewujudkan jaring pengaman sosial. Kami membangun jejaring sampai tingkat RT. Bila ada warga yang harus isolasi, akan dibantu RT, bila tidak mampu dibantu dukuh. Kemudian bila masih tidak mampu, baru akan dibantu kalurahan,” ucapnya.

Dikatakan, awalnya Kuswandi merasa kelimpungan. Lantaran anggaran pendapatan dan belanja kalurahan (APBKal) yang disusun tidak menganggarkan jarring sosial. “Karena panduan kalurahan, ya di APBKal. Ketika mengeluarkan anggaran yang tidak sesuai, maka itu disebut pelanggaran,” ujarnya.

Sementara dalam penyusunan APBKal tidak termuat alokasi bantuan kepada keluarga yang anggotanya terkonfirmasi Covid-19. Lantaran APBKal mempertimbangkan usulan masyarakat, serta arah kebijakan visi dan misi lurah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. “Itu disesuaikan dengan RPJMD kabupaten, instruksi bupati, gubernur, dan kementerian. Nah, dalam penanggulangan pandemi Covid-19 untuk tahun 2021, hanya dianggarkan bantuan langsung tunai (BLT) dan alat pelindung diri (APD),” paparnya.

Terpisah, warga Wirokerten, Banguntapan, Bantul yang enggan namanya dikorankan menyebut, pernah menjalani isolasi mandiri. Dia dan keluarga menerima bantuan dari Satgas Covid-19 kalurahan berupa sembako. “Kami waktu itu dapat beras lima kilogram, mi instan, telur, minyak, dan bawang. Cuma itu dan cuma sekali,” sebut sulung dua bersaudara itu.

Bantuan itu dinilai perempuan 26 tahun ini minim. Lantaran dia dan keluarganya membutuhkan sayur dan buah. Agar kesehatan tubuhnya tetap bugar. “Syukurnya, RT kami peduli. Ada teman juga yang peduli kasih sosis dan sayur. Itu cukup menguatkan, karena kami juga menerima stigma buruk di masyarakat,” ucapnya. (fat/laz)

Bantul