RADAR JOGJA – Bupati Bantul terpilih sekaligus Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menjalani isolasi, setelah mengeluh indra penciuman dan perasaannya menurun pada Jumat (22/1) sore. Dinas Kesehatan Bantul mengirim petugas ke rumah Halim dan melakukan rapid test antigen yang hasilnya positif Covid-19.

“Jadi positif itu baru hasil rapid test antigen. Sekarang Pak Halim isolasi, posisi di RSUD Panembahan Senopati sejak Jumat pukul 22.00. Swab PCR sudah dilakukan Sabtu (23/1) dan Minggu (24/1). Pagi ini running Lab PCR, insya Allah siang hasilnya keluar,” papar Sekda sekaligus Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Bantul Helmi Jamharis Senin (25/1).

Terhadap keluarga yang tinggal satu rumah dan kontak erat dengan Halim, Helmi menyebut diminta untuk isolasi mandiri (isoman). Tracing dilakukan setelah turunnya hasil laboratorium uji swab PCR Halim. “Keluarga mesti akan diswab, tapi menunggu informasi. Keluarga juga semestinya isoman. Yang di RSUD Panembahan Senopati hanya Pak Halim,” ujarnya.

Helmi sendiri mengaku bertemu Halim hari Jumat. Lantaran menghadiri penetapan bupati dan wakil Bupati Bantul terpilih Pilkada 2020 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Namun Helmi mengaku tidak berkontak begitu erat. Sebab tidak terlibat percakapan di ruang tunggu.

“Kira-kira pukul 14.30 beliau (Halim, Red) pulang. Sampai di rumah, kok ada informasi ke salah satu dokter kalau beliau merasakan sesuatu yang perlu ada tindakan lebih lanjut. Tapi keadaannya saat itu sehat dan masih pergi ke kantor,” ungkapnya.

Melalui kejadian itu Helmi mengimbau masyarakat untuk memperhatikan keadaan tubuhnya. Terutama menjaga imunitas. “Semua yang kontak erat dan tidak, tetap diminta untuk menjaga imunitasnya. Itu kewajiban pribadi. Mari sama-sama kita jaga,” imbaunya.

Melalui akun Facebook pribadinya, Halim memastikan keadaannya baik-baik saja. Dia tidak merasakan demam, pusing, atau sesak napas. Dia pun menceritakan treatment yang diperolehnya selama isolasi. “Di tempat isolasi dengan treatment beberapa vitamin disertai makan banyak walau agak maksa. Alhamdulillah kini daya penginderaan lidah dan hidung saya mulai pulih. Sudah bisa bedakan gula dan garam, antara parfum dan remason,” tulisnya.

Halim juga menuliskan, Covid-19 merupakan virus biasa. Tidak semenakutkan yang dibayangkan masyarakat. “Jika terpaksa terpapar, kuncinya tetap tenang, nggak usah panik, makan banyak, istirahat, dan gerakkan badan. Namun jangan ambil risiko. Tetap bermasker di manapun Anda berada,” pintanya.

Vaksinasi, Posisi Digeser Helmi

Posisi Abdul Halim Muslih sebagai calon penerima vaksin tahap pertama termin kedua digeser Sekda Bantul Helmi Jamharis. “Karena Pak Halim terkonfirmasi Covid-19, maka digantikan saya. Hasil swab PCR Pak Halim terinfokan ke saya pukul 15.00 tadi,” ungkap Helmi saat dihubungi Radar Jogja kemarin (25/1).

Sebelumnya, terdapat 10 nama tokoh publik Bantul yang masuk dalam daftar penerima vaksin Sinovac. Mereka adalah Halim, Kapolres, Dandim, Kajari, Kadinesk, perwakilan tokoh agama, dan perwakilan pedagang pasar. “Untuk yang lain tidak ganti, tetap sama dengan pengusulan awal,” sebutnya.

Sementara Bupati Bantul Suharsono tidak diusulkan, lantaran usianya sudah 63 tahun sehingga tidak memenuhi syarat penerima vaksinasi. Di mana calon penerima vaksin tidak boleh berusia lebih dari 60 tahun. Selanjutnya pemberian vaksin secara simbolis paling lambat dilakukan Kamis (28/1).

Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinkes Bantul Dokter Abednego Dani Nugroho membenarkan Bantul dijadwalkan mendapat vaksin Sinovac hari ini. “Akan dikirim ke Bantul besok (hari ini, Red), kemudian disimpan di cool chain Dinkes Bantul,” jelasnya.

Bantul mendapat jatah sebanyak 10.764 dosis vaksin Sinovac. Jumlah ini dinilai kurang. Lantaran penerima vaksin harus mendapat dua dosis. Dijelaskan, tahap pertama penerima vaksin adalah tenaga kesehatan (nakes). Total 6.329 nakes di Bantul diusulkan menerima vaksin. Tapi hanya 5.765 nakes yang terverifikasi. (fat/laz)

Bantul