RADAR JOGJA – PTKM nyatanya tidak menyurutkan pedagang angkringan untuk buka 24 jam. Salah satunya adalah pemilik angkringan di Wiroketen, Banguntapan, Bantul, Rindi. Kendati merasa was-was, dia terpaksa membuka angkringannya karena tidak memiliki pendapatan lain.

“Tapi alhamdulilah, belum pernah kena razia Satpol PP,” ujar perempuan 50 tahun itu Minggu (24/1). Rindi menyediakan tempat cuci tangan di depan angkringan miliknya. Selain itu mengimbau pengunjung untuk menjaga jarak.

PTKM yang mulai diterapkan 11 Januari lalu, membuat omset Rindi turun. Sebelum penerapan PTKM, omzet Rindi mencapai Rp 500 ribu per hari. Sekarang paling banyak Rp 350 ribu. “Kadang malah cuma Rp 300 ribu, banyak kan itu turunnya,” keluhnya.

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul Helmi Jamharis meminta pelaku usaha kuliner untuk berimprovisasi. Terutama bagi yang biasa beroperasi di malam hari. “Kalau biasanya buka dari jam lima sore, yang maju jadi pukul 15.00,” imbaunya.

Penerapan strategi itu, diharapkan Helmi dapat menjaga durasi jam buka usaha kuliner. Ditegaskan, durasi penutupan usaha kuliner sampai pukul 19.00 merupakan bukti Pemerintah Kabupaten (Pemkab) mencintai rakyat. “Justru karena kami cinta rakyat, dengan begitu (menetapkan jam maksimal operasional, Red), kesehatan mereka tetap terjaga. Sehingga ke depan mereka bisa beraktivitas sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujarnya.

Ketua DPRD Bantul Hanung Raharjo menyebut perpanjangan PTKM mengikuti instruksi dari pusat. Maka sebagai bagian dari unsur pemerintah, dia taat dan patuh untuk melanjutkan PTKM sampai 8 Februari. Dipahami, kebijakan perpanjangan PTKM disertai dengan data dan analisa. “Untuk memperpanjang PTKM, kami menyesuaikan arahan pusat dan koordinasi dengan Sekda, terkait jadwal yang disesuaikan dengan prokes dan aturannya. Sejauh ini tidak mengganggu. Untuk dua minggu ke depan, juga Insyallah tidak,” kata dia. (fat/pra)

Bantul