RADAR JOGJA – Pendapat daerah dari sektor pariwisata di Bantul terjun bebas. Hal itu imbas dari penerapan pengetatan secara terbatas kegiatan masyarakat (PTKM) yang akan dilakukan hingga 25 Januari mendatang.
Sekretaris Dinas Pariwisata (Dinpar) CAnnihayah sejak 11-17 Januari, pendapatan pariwisata Bantul sebesar Rp 158,4 juta. Padahal, pada pekan awal tahun 2021, penjulan tiket masuk objek wisata (obwis) Bantul mencapai Rp 291, 1 juta.

Sekretaris Dinas Pariwisata (Dinpar) Bantul Annihayah mengungkap, Bantul hanya mendapat sekitar 16.300 kunjungan selama sepekan. ”Padahal jumlah tersebut biasanya merupakan kunjungan ke obwis pada akhir pekan,” jelas Annihayah Senin (18/1).

Selain itu, rendahnya jumlah kunjungan diakibatkan oleh musim penghujan. Di mana pengunjung lokal yang masuk ke obwis jadi berkurang. Terutama pesepeda yang juga mengurangi aktivitasnya. “Tren gowes sudah turun, karena sudah musim hujan. Paling, yang menarik kuliner. Tapi itu pun dibatasi Cuma sampai pukul 20.00,” jelasnya.

Kendati demikian, selama kebijakan pembatasan, Pantai Parangtritis dinilai stabil. Di mana pengunjungnya masih di atas seribu wisatawan. “Kalau yang lain sangat berdampak,” ujarnya.

Kepala Seksi Promosi dan Informasi Data Dinpar Bantul, Markus Purnomo Adi pun menyebut selama penerapan kebijakan pengetatan, jumlah wisatawan yang datang ke Bantul turun cukup signifikan. Namun ia bersyukur penurunan jumlah wisatawan tak separah Gunungkidul yang mencapai 80 persen. ”Ada penurunan, tapi tak sampai 50 persen,” ujar Ipung.

Sektor kuliner yang menjadi salah satu penopang pariwisata di Jogjakarta pun terkena imbasnya. Seperti yang dialami para pengusaha kuliner di Kulonprogo.
Pengelola usaha kuliner Rumah Cantrik, Andre Widarto mengungkapkan bahwa akibat diberlakukannya kebijakan PTKM omzet usahanya turun sampai 80 persen. Ia menyebut, penurunan omzet ini terjadi karena adanya kebijakan pada pembatasan jam buka usaha hingga pukul 19.00.

Melihat dampak yang dihasilkan dari penerapan PTKM, Andre berharap agar pemerintah bisa mengkaji ulang kebijakan tersebut. Sehingga upaya pencegahan virus bisa tetap dilakukan, namun tidak merugikan para pelaku usaha mandiri. ”Dilihat dari kebijakan itu jelas kunjungan jadi sangat merosot, untuk tamu di sore dan malam juga sangat minim,” terang Andre.

Kondisi serupa juga dirasakan oleh Pengelola Kopi Menoreh, Andro. Dikatakan selama seminggu penerapan PTKM mengalami penurunan omzet. Selain pembatas jam operasional, pihaknya juga harus melaksanakan prokes pengetatan kapasitas 25 persen pengunjung. (fat/inu)

Bantul