RADAR JOGJA – Seperti sudah diduga, TPST Piyungan akan sering ditutup kembali. Kali ini bukan oleh warga. Tapi karena alat milik pengelola yang dapat diandalkan hanya satu ekskavator. Sementara tiga buldoser rusak, setelah tidak kuat dipaksa bekerja keras mendorong sampah basah.

Tiap musim penghujan, alat berat di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan selalu bermasalah. Pengelola akhirnya memberdayakan alat berat proyek penataan landfill. “Alat berat yang punya kantor rusak, baru dibenerin satu. Satu buldoser bisa operasi hari ini (kemarin), ganti buldoser yang sewa punya proyek yang rusak,” ungkap operator alat berat di TPST Piyungan Gendi Minggu (17/1).

Pria 32 tahun itu pun mengungkapkan, rusaknya alat berat membuat TPST Piyungan tidak dapat beroperasi. Sehingga harus menutup layanan pada Sabtu (16/1).

Dikatakan, faktor utama penyebab kerusakan alat berat karena tidak kuat menahan beban. Ini biasa terjadi saat musim penghujan. Di mana sampah menjadi lebih berat karena basah. Faktor lainnya, kerusakan diakibatkan oleh perawatan yang kurang baik. “Enggak dirawat, ya rusak. Besok (hari ini) mau sewa alat berat proyek lagi lima hari,” cetusnya.

Namun, Gendi mengaku senang. Rusaknya alat berat membuat jam kerjanya jadi berkurang. Disebutkan, tiap harinya ada delapan orang yang dijadwal mengoperasi alat berat. “Masuk pukul 06.00 sampai 12.00 yang pagi, yang siang 12.00-17.00. Karena rusak jadi menganggur. Kalau rusak malah enak, malah enggak ndorong,” candanya.

Sementara juru bicara warga sekitar TPST Piyungan Maryono justru mengeluh dengan ditutupnya TPST Piyungan. Minimnya alat berat membuat armada kembali bongkar muat sampah di tepi jalan. Sehingga mengganggu akses warga. “Ini buang di tepi jalan lagi. Sudah disampaikan ke kantor, katanya mau diredakan. Kalau seperti ini terus. Nanti warga bisa menutup lagi,” ujarnya.

Minimnya alat berat juga membuat antrean armada mengular. Itu terjadi hampir setiap hari. Maryono lantas meminta adanya pengkajian ulang oleh pengelola. “Satu minggu ini hampir selalu ada terus antrean. Harusnya pihak kantor merevisi, kenapa ada seperti ini. Padahal warga tidak mau ada antrean lagi. Hari ini (kemarin) lancar karena kalau Minggu, banyak armada yang tidak beroperasi,” sebutnya.

Sopir armada dengan daerah operasi Condongcatur, Sleman, Iwan Nurosyid mengaku harus mengantre sekitar 1,5 jam untuk bongkar muat saat hari kerja. Namun pria 40 tahun ini paham, tiap musim penghujan TPST Piyungan selalu berkendala. “Sabtu (9/1), saya malah antre lebih dari dua jam. Padahal kalau lancar cuma butuh waktu 10 menit. Katanya landasan dermaga rusak, jadi harus satu-satu. Terus alat berat yang operasional cuma satu, dibantu proyek, sewa,” ucapnya. (fat/pra)

Bantul