RADAR JOGJA – Rumah sakit rujukan Covid-19 di Kabupaten Bantul penuh. Beberapa rumah sakit sampai harus menutup instalasi gawat darurat (IGD). Setelah menerima pasien dengan gejala atau diduga terindikasi terpapar virus korona. Kekurangan ruang isolasi membutuhkan waktu setelah dekontaminasi.

Salah satu RS yang sempat menutup layanan IGD-nya adalah PKU Muhammadiyah Bantul. Manajer Humas dan Pemasaran PKU Muhammadiyah Bantul Wahyu Priyono menyebut, IGD penuh sejak Senin pagi (11/1). Lantaran digunakan merawat pasien suspect Covid-19.

Sebagai langkah antisipasi, terjadi penumpukan pasien dan khawatir pasien yang masuk terbengkalai, layanan IGD pun ditutup. “Buka layanan (IGD) lagi pukul 14.00,” papar Wahyu saat dihubungi awak media Selasa (12/1).

Wahyu mengaku ruang isolasi Covid-19 RS-nya penuh. Padahal RS ini berkapasitas 150 tempat tidur (TT) dan sekitar 30 persennya, digunakan untuk merawat pasien Covid-19. Akibatnya, pasien suspect Covid-19 yang dirawat di IGD sempat tidak dapat dipindah ke ruang isolasi. “Setelah yang rawat inap pulang, yang di IGD baru bisa masuk rawat inap,” jelasnya.

Kebijakan diambil juga untuk memberikan rasa aman. Lantaran IGD biasa melayani pasien suspect Covid-19 dan umum. Kendati pasien suspect Covid-19 sudah dipindah di ruang rawat inap sejak kemarin pagi. Tetap dibutuhkan waktu untuk sterilisasi IGD.

“Sampai pukul 14.00, alur loading sudah mulai terkondisikan. Ketika pukul 14.00 buka, sudah tidak overload. Intinya ada tempat untuk yang diduga dan pasien umum. Agar aman untuk semuanya,” ucapnya.

RSUD Panembahan Senopati juga sama. Sempat menutup sementara layanan IGD-nya kemarin pukul 11.00-13.30. Itu dilakukan lantaran IGD sempat menampung pasien suspect Covid-19 yang tertahan sebelum dirawat di ruang isolasi. “Tadi malam (Senin malam, Red) memang banyak pasien (suspect Covid-19 di IGD). Ini tadi tutup selama dua jam untuk dekontaminasi,” ujar Humas RSUD Panembahan Senopati Siti Rahayuningsih.

Dijelaskan pula, IGD bukan ruang rawat. Lantaran TT yang ada di IGD bukan standar TT pasien rawat. “IGD hanya untuk pemulihan dan stabilisasi pasien ketika terjadi kegawatdaruratan. Kalau ready, ruang rawat baru masuk ruang rawat,” sebutnya.

Sebelumnya, Siti menyebut RS-nya merencanakan penambahan ruang isolasi. Saat ini pengelola sedang meminta persetujuan dari bupati Bantul untuk menambah delapan ruang isolasi dengan kapasitas maksimal 16 TT. (fat/laz)

Bantul