RADAR JOGJA – Idealnya, rumah sakit rujukan Covid-19 maksimal terisi 75 persen, dari total tempat tidur (TT) yang tersedia. Tapi, TT RS rujukan Covid-19 di Bumi Projotamansari hampir selalu penuh 100 persen.

“Tidak pernah kosong, terisi terus, bahkan pasien belum keluar sudah ada waiting list,” ungkap Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Bencana Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul sekaligus Plt Kepala RS Lapangan Khusus Covid-19 (RSLKC) drg Tri Wahyuni saat dihubungi Radar Jogja Selasa (12/1).

Disebutkan, Bantul memiliki empat RS resmi rujukan Covid-19. RSUD Panembahan Senopati berkapasitas 30 TT, PKU Muhammadiyah Bantul berkapasitas 32 TT, RS Santa Elisabeth berkapasitas 12 TT, dan RSPAU Dr S Hardjolukito berkapasitas 66 TT. “Sampai sekarang (perkembangan Covid-19, Red) dinamis, kami minta RS untuk menambah TT,” sebutnya.

Selain itu, RS yang belum menjadi rujukan Covid-19 pun didorong untuk mempersiapkan diri. “Begitu juga RS lain kami dorong, instruksi Menkes daerah diminta menambah kapasitas (ruang isolasi, Red), baik rujukan dan non-rujukan,” ujarnya. Agar semua pasien dapat ditangani sebelum mendapat ruang perawatan yang dibutuhkan.

Beberapa RS mulai menyediakan ruang isolasi adalah Rajawali Citra yang menyediakan empat TT dan RS Nur Hidayah yang menyediakan dua TT. Sementara RS Rahma Husada dan Permata Husada masih dalam tahap konsultasi. Di samping Pemkab Bantul yang sudah membuat RSLKC di Bambanglipuro, Bantul. Serta membangun tiga shelter, di Niten, Bambanglipuro, dan menggunakan bangunan bekas RS Patmasuri.

Diungkap pula, RSLKC awalnya hanya merawat pasien tanpa gejala dan gejala ringan. Namun saat ini, RSLKC sudah seutuhnya merawat pasien bergejala. Bahkan membutuhkan oksigen 24 jam per hari. “Kegiatannya pelayanan medis, dokter 24 jam, ada rontgen, laboratorium, dan penunjang seperti RS pada umumnya,” ujarnya.

Sementara shelter, disesuaikan dengan kondisi pasiennya. Shelter memiliki dua fungsi, tempat merawat pasien bergejala ringan dan pasien tanpa gejala yang tidak memiliki fasilitas isolasi mandiri. “Jadi kami akan menyaring, ini cocoknya untuk pasien rumah sakit mana. Itu strategi kami. Tidak menumpuk di satu RS. Sistemnya tetap filter,” urainya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul Helmi Jamharis membenarkan, RS rujukan Covid-19 overload. “Yang saya tahu kapasitas RS untuk Covid-19 sudah penuh,” sebutnya. Kendati tidak tahu secara pasti kapasitas RS di Bantul, Helmi mengatakan sudah membuat surat edaran. Meminta RS rujukan Covid-19 di Bantul untuk menambah ruang isolasi.

Peningkatan angka kasus atau positive rate Covid-19 di Bantul bahkan mencapai 38 persen. “Ini memang bisa disebut tinggi. Ketersediaan rumah sakit sekarang full. Gugus Tugas mengimbau kepada RS untuk bisa menambah ruang isolasi Pasien Covid-19,” ucapnya. (fat/laz)

Bantul