RADAR JOGJA – Jadin C Djamaludin merayakan 45 tahun berkiprah dalam industri tekstil. Pria 73 tahun itu pun menggelar pameran bertajuk “Tekstil Tradisional Indonesia Instrumen Pertahanan Budaya Nasional”. Unggulannya, adalah rami.

SITI FATIMAH, BANTUL, Radar Jogja

Tanaman rami yang digunakan Jadin berasal dari Kalimantan. Tumbuhan dengan nama latin Boehmeria Nivea L Gaud ini memiliki keunikan. “Kalau seratnya bukan rami, tidak akan keluar warna seperti itu,” sebut Jadin menunjuk pakaian model yang berlenggok saat peragaan busana yang digelarnya di Rumah Seni Kumpul-Kumpul atau Grobucks Coffee, Sewon, Bantul Minggu malam (10/1).

Pameran yang berlangsung 10 Januari sampai 17 Januari 2020 ini menampilkan ratusan kain tradisional dan alat tenun bukan mesin (ATBM) koleksinya. Pria yang mengawali karir di bidang tekstil tradisional pada 1985 itu memamerkan berbagai bahan dasar tenun.

Serat rami diambil dari bagian batang. Dengan ukuran panjang sekitar tiga meter. Keunggulan dari serat rami sebagai bahan baku, karena teksturnya mirip katun. “Jadi, saya memilih rami, karena saya harus bersaing. Saya harus punya sesuatu yang sulit ditiru orang. Bukan hanya warnanya tapi juga seratnya,” paparnya.

Jadin patut berbangga, belum ada yang dapat memintal rami. Sementara dia, mampu mengubah serat rami menjadi kapas. Kemudian dipintal menjadi benang.lalu ditenun menjadi kain. “Yang membuat benang rami belum ada, kalau beli benang rami ada. Tapi orang mintal sendiri belum ada,” ucapnya.
Pemilihan tenun, sebagai usaha yang digeluti pelaku Peristiwa Malari ini juga terbilang unik. Di mana industri tekstil tradisional yang berkembang di Jogja umumnya batik. “Semua daerah itu memiliki garis yang khas. Lurik itu tenun, dia memiliki motif dan ciri sendiri,” cetusnya.

Jadin adalah sosok yang dapat diteladani. lantaran mampu bertahan menghadapi berbagai cobaan selama 45 tahun berkiprah di industri tekstil tradisional. “Pertama kali saya membangun usaha, saya ditertawakan,” kenang Jadin.

Dia mengawali usaha tekstilnya pada tahun 1985 di Jogokaryan, Mantrijeron, Jogjakarta. Jadin mengganti peralatan pabrik milik ayahnya. Kemudian memulai pabrik anyar. Ide itu, muncul lantaran Jadin sebelumnya menerima respon positif dari rekannya di Amerika. Namun, dia menemui kendala, lantaran perajin tekstil tradisional sudah menyesuaikan diri dengan hal baru. “Akhirnya saya harus belajar buat sendiri, di Balai Besar Bandung,” ujarnya.

Setelah dibuka, pabrik Jadin banyak menerima kunjungan, salah satunya Menteri Perindustrian Indonesia Hartarto Sastrosoenarto yang menjabat pada era kepemimpinan Presiden Suharto. Berjalan cukup stabil, Jadin harus memindah pabriknya pada 2002. Akibat pabriknya terbakar habis. Empat tahun kemudian, musibah kembali datang. Gempa 27 Mei 2006 merobohkan bangunan pabriknya. “Roboh semua, gudang, pabrik, galeri, dan laboratorium,” sebutnya.

Lepas itu, Jadin memutuskan untuk menutup pabrik. Dia bahkan membagikan mesin produksi kepada 140 pekerjanya. Tapi, bukan berarti, Jadin tidak lagi dapat memproduksi. Justru, saat ini Jadin hanya perlu memberikan contoh materi dan batasan waktu pada mantan pekerjanya. “Merangkul perubahan sambil melestarikan, melindungi, dan menghidupkan kembali tradisi tidak ada kata-kata terlambat dalam melindungi warisan leluhur,” tuturnya.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Sumadi berharap, melalui pameran yang digelar, Jadin dapat menularkan ilmunya. Kepada generasi penerus yang turut ingin mengembangkan usaha di bidang tekstil tradisional. “Karena dengan ditularkan ilmunya, akan menjadi pembelajaran bagi pengusaha muda. Biar punya integritas untuk bangkit dan kuat meraih masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Sementara seorang pengunjung, Kurniyati mengaku sangat bahagia. Perempuan 27 tahun itu menggeluti penelitian sejarah tekstil tradisional dan batik. Dia terkagum-kagum dengan proses panjang untuk menghasilkan lembaran kain. “Saya beruntung sekali, dapat bertemu dengan seorang maestro seperti Pak Jadin dan melihat langsung koleksinya,” ucapnya. (pra)

Bantul