RADAR JOGJA – Sistem pengelolaan sampah TPST Piyungan mendapat kritik. Lantaran sistemnya hanya ditumpuk atau ditimbun. Jika tidak ada perbaikan secara menyeluruh bukan tak mungkin warga sekitar kembali menutup jalan masuk.

“Selama ini yang diperbaiki hanya dermaga, harusnya sampah diolah, bukan ditumpuk,” sebut anggota Komisi C DPRD DIJ Amir Amir Syarifuddin Minggu (10/1).

Menurut dia, volume sampah yang masuk ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan mencapai 600 ton perhari. Kendati luas TPST Piyungan mencapai 12 hektare, nyatanya TPST itu tetap overload. Oleh sebab itu, diperlukan penambahan luas TPST. “Anggaran sudah masuk untuk perluasan TPST Piyungan sekitar enam hektare. Sementara tanah urug diselesaikan 2021,” ujarnya tanpa menyebut jumlah anggaran.

Selain itu, Amir juga mengkritik proses penataan TPST Piyungan. Politisi PKS itu, pengerjaan tidak dilakukan dengan koordinasi yang baik. Antara Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Mineral (DPUPESDM) dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIJ. Dia mencontohkan, proyek talut yang dikerjakan, DPUPESDM dengan DLHK tidak ada koordinasi, lindi masuk ke permukiman. “Di sana ada dua dermaga yang menampung seluruh truk yang masuk di sana, kemarin ditutup satu dermaga. Terjadi antrean panjang, dan kemarin sempat ditutup masyarakat,” ucapnya.

Penutupan TPST Piyungan oleh warga disebut wajar. Lantaran Amir paham, itu adalah bentuk protes. Jika tidak ditangani serius bukan tak mungkin akan ditutup kembali. “Kalau kemarin masyarakat menutup, saya anggap sebagai protes yang sudah lama. Salah satunya adalah kebutuhan dasar masyarakat, kesehatan, pemeriksaan rutin, juga nggak ada di sana. Fasilitas umum, jalan menuju TPST juga terkurangi,” paparnya.

Ketika dikonfirmasi, Kepala Balai Pengelolaan Sampah TPST Piyungan DLHK DIJ Fauzan Umar menyebut, permasalahan di TPST Piyungan tidak ada habisnya. Lantaran permasalahan baru selalu muncul. Setelah sebuah permasalahan dinilai sudah terselesaikan. “Nanti juga muncul masalah lain lagi. Apalagi TPST Piyungan sudah overload,” cetusnya.

Untuk itu, sangat dibutuhkan teknologi yang bisa menangani permasalahan sampah di TPST Piyungan. Keberadaan teknologi yang tepat dipastikan dapat menanggulangi permasalahan sampah. “Tapi, sampah yang masuk ke sana, ketika sudah ada teknologi yang menangani, sudah tidak bisa kayak sekarang,” kata Fauzan.

Sampah yang masuk, kata dia, sudahlah sampah yang terpilah. Sementara sampah yang tidak terpilah, tidak akan diterima. “Kami nanti juga punya jalan (akses ke dermaga yang terpisah dengan jalan umum, Red) sendiri, ada pagarnya dan sudah ada badan usaha yang mengelola TPST. Itu jangka panjangnya,” paparnya.

Dijelaskan pula, penataan landfill akan menonaktifkan sebagian lahan. Untuk nantinya digunakan sebagai lahan parkir. Akan dilakukan pula penghijauan oleh pengelola. “Kalau ada masalah dengan ternak dan pemulung ada dinas sosial dan peternakan, di sana itu banyak sektor. Bukan hanya balai pengelolaan sampah. Cuma karena kami yang di sana, wajar warga mengadu pada kami,” tuturnya. (fat/pra)

Bantul