RADAR JOGJA – Awalnya, ayah empat anak ini iseng ‘menyenggol’ teman-teman di WhatsApp Group (WAG). Dia memanfaatkan memori ingatan masa lalunya, untuk dirangkai menjadi bait puisi dan cerpen.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Saat Radar Jogja sampai di depan rumahnya, Bintaran Kulon, Srimulyo, Piyungan, Bantul, pria bernama lengkap Joko Widiyanto itu melongok. Penggemar Andrea Hirata ini lantas tertawa dan mengisyaratkan untuk mendekat. “Saya Joko, ini rumah saya,” ujarnya, mempersilakan.

Pria yang sejak 1993 menjadi guru SD di Gunungkidul ini mengawali obrolan dengan menyebut jika buku-buku yang diterbitkan sederhana dan tidak istimewa. Tapi, jumlah yang diterbitkan sekaligus tiga. “Ahahahaha, buku saya sederhana, ndak istimewa, kecil-kecil,” katanya. Kemudian, ketika disinggung tentang kebanggaan, dia justru tersipu.

Joko memang dikenal piawai merangkai kata. Sebelum menerbitkan buku, ia menjadikan WAG teman sekelasnya masa SMP dan kuliahnya sebagai sarana. Ya, seperti pada umumnya, masa-masa sekolah memiliki kenangan. Tidak jarang pula, ada teman yang terlibat cinta lokasi (cinlok). Ini menjadi sasaran Joko.

“Saya meledek teman yang pernah jadian. Saya buat puisi atau cerpen. Itu gayeng,” ujar penggila tulisan Tere Liye itu terkekeh. “Tapi saya pikir, masa saya cuma mengirim untuk WAG terus. Jadi ya udah coba nulis, saya simpan, nulis lagi saya simpan. Sehingga jadi buku,” lanjutnya.

Kepala SDN Tambran I, Semin, Gunungkidul ini kemudian mengantarkan naskah yang ditulisnya kepada penerbit. “Tidak semua penerbit mau. Saya hanya menyampaikan naskah saya. Monggo kalau layak diterbitkan, ya diterbitkan. Kalau enggak, ya sudah,” cerita Joko yang sempat merasa tidak percaya diri (pede) itu.

Namun, ketika penerbit menyebut kriteria utama penerbitan adalah duplikasi, kepercayaan diri Joko terdongkrak. Ayah yang selalu menghadiahkan tulisan tiap anak-anaknya ulang tahun itu yakin betul. Tulisannya orisinal. “Oktober diberi tahu, kalau ketiga buku bisa diterbitkan,” paparnya.

Selain itu, ketiga buku karya Joko ini pun masuk dalam penilaian khusus profesinya. Di mana seorang kepala sekolah dapat melakukan inovasi dalam program pengembangan kepala sekolah berkelanjutan (PKB). Inovasi dapat berupa modul, buku cerita, buku pendidikan, kumpulan cerpen, dan kumpulan puisi.

“Kebetulan saya senang menulis, saya mencoba membuat beberapa cerpen dan puisi. Niat utamanya karena senang dan untuk pengembangan inovasi. Sekaligus syarat sebagai pendidik untuk mendapat nilai kredit tertentu untuk naik pangkat,” jelas Joko yang juga aktif berbagi pengetahuan melalui akun Facebook itu.

Bagi seorang Joko, menulis adalah upaya meninggalkan jejak kehidupan. Pria 49 tahun itu menyadari betul, akan adanya pertemuan dengan kematian. “Saya pasti meninggal, tapi tulisan saya akan abadi,” tuturnya.

Namun, guru yang sudah 27 tahun mengabdi itu terkadang merasa kekurangan teman berbincang. Guna menambah pengetahuannya dalam kepenulisan. Selain itu, dia juga sebal, ketika mulai menulis harus diganggu.

“Menulis juga butuh keheningan, karena saat menulis dan ada yang mengganggu, untuk kembali menulis itu perlu energi yang berlipat-lipat. Makanya kita harus merawat momentum,” ungkap Joko. (laz)

Bantul