RADAR JOGJA – Hujan lebat menyebabkan longsor di Ngablak RT 5, Sitimulyo, Piyungan, Bantul Kamis (7/1) sore. Material longsor berupa tanah dan talut menghantam rumah milik Suraji, 39, dan Sumadi, 43.

Longsor terjadi sekitar pukul 15.30. Setelah sebelumnya hujan mengguyur selama tiga jam berturut-turut. ”Talut ambrol, merusak dapur dan sempat menimbun dua anak,” papar ketua RT 5 Ngablak, Sukiman ditemui di lokasi Jumat (8/1).

Longsor tersebut sempat menimbun dua anak.  Mereka yakni anak Suraji, Mei Rani Astuti, 14, dan Widya Nur Ramadani, 8. Saat pertama kali ditemukan, Mei sudah menyelamatkan diri. Namun Widya sempat tertimbun material tanah selama lebih dari satu jam.

”Tertimbun sampai bagian dada satu jam lebih. Karena masih hujan, posisi air banyak sekali. Terus dari sini (menunjuk area longsor, Red) masih mengalir semua tanah-tanah itu. Agak takut juga (mau menolong, Red),” ujarnya.

Sukiman bersyukur, talut yang ambrol dan menghantam bangunan tidak mengenai Widya. ”Sekarang kedua anak mengalami lecet-lecet dan masih trauma. Dan saya evakuasi ke tempat aman,” paparnya.

Dia pun memobilisasi warga untuk membantu proses pembersihan rumah Suraji dan Sumadi. Dikatakan, rumah Sumadi tampak utuh. Namun saat didekati terdapat retak cukup besar, sehingga membahayakan. “Rumahnya kan dihantam material dari talut, dan sudah tidak layak huni,” cetusnya.

Diperkirakan, kerugian akibat bencana sekitar Rp 40 juta sampai Rp 50 juta. Dua rumah yang dihantam dihuni oleh delapan jiwa.

Untuk menghindari korban, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Sitimulyo memasang garis kuning sebagai batas di lokasi kejadian. Mereka menyekat jalan di atas tempat kejadian perkara (TKP). Sebab kondisi tanah dinilai labil akibat adanya retakan. “Jalan ditutup, hanya dapat dilalui oleh satu motor, sementara untuk roda empat tidak bisa lewat,” kata Sukiman.

Anggota FPRB Sitimulyo Aris Munandar menambahkan, kawasan longsor merupakan salah satu lokasi yang masuk dalam pengawasan. Kendati tidak tahu persis, kapan ada titik retak di sekitar TKP. “Di Sitimulyo lebih dari lima titik (rawan bencana, Red), fokusnya memang di tanah longsor. Karena tempatnya agak tinggi,” ungkapnya.

Disebutkan, Sitimulyo memiliki sekitar 30 relawan. Seyogyanya, tiap RT memiliki perwakilan FPRB, namun itu belum terealisasi. “Anggota lebih dari 30, tapi kadang aktif kadang tidak. Tiap RT seharusnya ada FPRB, tapi ada yang tidak ada. Kami hanya bisa memberikan masukan kepada kalurahan, untuk menganggarkan atau mempersiapkan anggaran kebencanaan,” tandasnya. (fat/bah)

Bantul