RADAR JOGJA – Pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 masih menjadi fokus utama. Sebagai langkah awal, yang dilakukan dengan memetakan produk-produk unggulan Bantul.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeda) Bantul Isa Budi Hartomo menjelaskan, kunci pemulihan ekonomi dilakukan dengan menentukan produk unggulan. Produk ini, dapat berupa barang dan jasa. Namun acuannya, produk harus tahan hantaman.

“Adanya pandemi Covid-19, membuat kami berpikir, jangan-jangan dulu yang kami sebut unggulan, tidak unggul. Dulu, produk unggulan belum teruji dengan adanya wabah,” ujar Isa usai acara harmonisasi visi misi Bupati Bantul Terpilih dalam dokumen RPJMD Bantul tahun 2021-2024 di Hotel Ros In Selasa (5/1).

Isa mengakui, pandemi Covid-19 memberikan pelajaran. Utamanya dalam hal evaluasi dimana sebuah produk mampu bertahan pada masa pandemi. “Begitu adanya wabah terus mengajarkan ke kami untuk evaluasi. Betulkah itu unggul. Setelah kena ini (pandemi Covid-19, Red) ternyata goyang, yang kami maksud unggul ya betul-betul stabil,” sebutnya.

Untuk itu, diperlukan sebuah pemetaan ulang. Setelah ditemukan, produk dapat dipacu. “Produk yang dipilih harus sustainable. Tidak usah semua produk, tapi harus prioritas. Fokus pada pemulihan ekonomi, ya yang cepat yang unggulan,” tandasanya.

Wakil Bupati Bantul sekaligus Bupati Bantul Terpilih, Abdul Halim Muslih pun mendukung, pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 harus segera dilakukan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melakukan inovasi. “Di antaranya, penyerapan investasi dan penerapan teknologi,” cetusnya.
Penyerapan investasi harus dioptimalkan. Sumberdaya yang dimiliki Bantul, termasuk sumber daya tanah, harus dimanfaatkan untuk penumbuhan sentra produksi. “Investasi harus digenjot, sebagaimana amanat presiden, untuk melakukan deregulasi dan debirokratisasi,” kata dia.

Hal itu, dikarenakan perizinan usaha dinilai menyulitkan investor. Sehingga mengakibatkan indeks berusaha rakyat rendah, termasuk di Bantul. “Maka investasi harus dibuka. Dengan melakukan deregulasi, aturan yang sekiranya menghambat investasi harus dipotong dan dirampingkan. Debirokratisasi memperpendek meja. Jangan sampai mau investasi, tapi survei sampai enam kali,” ujarnya. (fat/bah)

Bantul