RADAR JOGJA – Selama 45 tahun, pengusaha Jadin C Djamaludin,73, bergelut di dunia tekstil tradisional. Dalam kurun waktu tersebut, Jadin mampu bertahan dan menghadapi cobaan yang datang.
“Pertama kali membangun usaha, saya ditertawakan,” kenang Jadin ditemui di Rumah Seni Kumpul-Kumpul, Karangnongko, Panggungharjo, Sewon, Bantul Rabu (5/1).

Jadin mengawali usaha tekstilnya pada 1985 di Jogokaryan, Mantrijeron, Jogjakarta. Dia mengganti peralatan pabrik milik ayahnya. Kemudian memulai pabrik anyar. Ide itu, muncul lantaran Jadin, sebelumnya menerima respon positif dari rekannya di Amerika.

Hanya, upaya ekspor tekstil tidak berjalan semulus yang dikira. Lantaran, perajin tekstil tradisional sudah menyesuaikan diri dengan hal baru. “Akhirnya saya harus belajar buat sendiri, di Balai Besar Bandung,” ujarnya.
Jadi memang harus bertahan di tengah cobaan yang menimpa. Pada 2002, pabriknya terbakar habis. Empat tahun kemudian, musibah kembali datang. Gempa 27 Mei 2006 merobohkan bangunan pabriknya. “Roboh semua, gudang, pabrik, galeri, dan laboratorium,” sebutnya.

Jadin pun sempat memutuskan untuk menutup pabrik. Dia bahkan membagikan mesin produksi kepada 140 pekerjanya. Tapi, bukan berarti, Jadin tidak lagi dapat memproduksi. Justru, saat ini Jadin hanya perlu memberikan contoh materi dan batasan waktu pada mantan pekerjanya.
“Merangkul perubahan sambil melestarikan, melindungi, dan menghidupkan kembali tradisi tidak ada kata-kata terlambat dalam melindungi warisan leluhur,” tuturnya.

Setelah kembali beroperasi, pabrik Jadin justru berjalan dengan baik. Bahkan, menerima banyak kunjungan. Salah satunya dari Menteri Perindustrian di era orde baru, Hartarto Sastrosoenarto.
”Melihat perjalan yang cukup stabil, saya memindah pabriknya pada 2020,” terangnya.

Sementara itu di bagian lain, pengusaha batik di Wukirsari, Imogiri, Bantul Erni Purnawati,37, mengaku masih terdampak pandemi Covid-19. Sehingga showroom batik miliknya sepi pengunjung.
Diakui, dirinya hanya mengandalkan kunjungan wisatawan, dalam memasarkan produk batiknya. “Keadan pengusaha atau perajin batik sama seperti bulan lalu. Masih belum bangkit. Cuma satu dua untuk penjualan,” keluhnya.

Melihat sutiasi pariwisata tak kunjung stabil, dia pun mulai melirik penjualan online. Memanfaatkan media sosial, seperti Instagram dan Facebook, milik pengurus koperasi batik yang diikutinya. “Kami juga sudah coba menjual produk jadi, bukan hanya kain, tapi yang membeli masih sedikit. Karena Itu, saya juga nggak berani stok banyak,” sebutnya. (fat/bah)

Bantul