RADAR JOGJA – Produksi tempe lokal di Jogja masih banyak bergantung pada kedelai impor. Padahal, keberadaan kedelai lokal dapat mengatasi kelangkaan.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (Diperpautkan) Bantul Yus Warseno menjelaskan ketidaktersediaan akibat petani takut menanam kedelai. Ketika menanam kedelai, mereka tidak tahu harus dijual ke mana. Selain itu harga jual kedelai dinilai tidak stabil. Sehingga membuat petani beralih pada jenis tanaman lain. “Awalnya memang menanam kedelai, karena terjadi fluktuasi harga petani beralih ke tanaman lain,” jelasnya Senin (4/1).

Pemkab, merencakan penyediaan 200 hektare lahan untuk menanam kedelai. Penanaman kedelai rencananya dilakukan tahun ini. Di mana prosesnya sedang dipersiapkan. Selain itu, sudah dilakukan kerjasama dengan dua perusahaan.

Diharapkan usaha kedelai di Bantul bisa bergairah, dengan harga sesuai standar kualitas dan kuantitas. “Ke depan, perusahaan yang memiliki pasar jadi lokomotif. Masyarakat sebagai gerbong, bisa ditarik dengan stabilitas Lokasi penanamannya, sesuai penelitian, di Pandak. Tapi belum menutup kemungkinan untuk wilayah lain. Karena sementara hanya butuh 200 hektare,” paparnya.

Terkait monopoli kedelai oleh perusahaan, Yus menjelaskan, perusahaan akan membeli dengan harga lebih tinggi. Oleh sebab itu terdapat perjanjian antara perusahaan dan petani. Namun, petani tidak wajib membuat perjanjian bersama perusahaan. “Tidak semua masyarakat harus mengikuti. Tapi bagi yang mau saja, silahkan mengikuti. Nanti menghasilkan kedelai yang bagus sesuai kebutuhan perusahaan. Kalau tidak sesuai akan ditolak, tapi sudah ada yang akan menampung juga,” jelasnya.

Harga kedelai yang melambung pun diakui oleh Kepala Dinas Perdagangan (Dinper) Bantul Sukrisna Dwi Susanta. Kendati begitu, Si Krisna menyebut kedelai termasuk produk olahannya, tempe dan tahu masih dapat dijumpai. “Stok kedelai sebenarnya mencukupi baik di pasar dan di distributor, tadi (kemarin) saya ke Pasar Bantul,” cetusnya.

Diketahui, kedelai impor di distributor dijual dengan harga sekitar Rp 9.000 per kilogram. Di mana harga awalnya hanya sekitar Rp 7.500. Harga kedelai pun menjadi lebih mahal, ketika dijual di pasar. Dengan penambahan sekitar Rp 1.000. “Alasan kenaikan, saya kurang tahu persis,” ucapnya.

Sementara harga tempe dan tahu tidak mengalami kenaikan. Tapi ukurannya mengalami penyusutan. “Harga sama, untuk tempe yang dibungkus plastik, volumenya dikurangi, dari tiga ons menjadi 2,5 ons,” sebutnya. (fat/bah)

Bantul