RADAR JOGJA – Kasus lakalaut di pantai selatan DIJ sudah sering didengar. Termasuk penyebabnya karena bermain air di dekat palung. Tapi masih saja banyak pengunjung yang mengabaikan. Meski sudah dipasang rambu tanda palung.

Radar Jogja mencoba mewawancarai seorang pemuda yang bermain ombak agak ke tengah. Tapi pemuda menghindar dengan tertawa dan berlari menjauh. Sementara Wakidi, mengizinkan anaknya yang berusia tujuh tahun bermain sendirian di bibir pantai dekat rambu tanda palung. “Yang penting, anak saya tetap dalam pantauan,” ujar pria 35 tahun itu beralasan Minggu (3/12).

Koordinator SAR Satlinmas Rescue Istimewa Parangtritis Ali Sutanto mengungkap, lokasi bibir pantai yang terpasang rambu palung di barat posnya hampir memakan korban 26 Desember lalu. Sampai saat ini, rambu belum dilepas. Lantaran terpantau masih menjadi lokasi palung. “Korban waktu itu orang Semarang, Jawa tengah. Sudah diingatkan petugas tapi tidak diindahkan sehingga terseret arus ke tengah. Beruntung masih bisa diselamatkan petugas,” sebutnya.

Menurut dia, palung masih menjadi ancaman paling berbahaya di objek wisata (obwis). Letaknya pun dapat berpindah-pindah. Dipengaruhi angin dan gelombang yang bertiup ke arah pantai. “Kami hanya melihat keadaan pantai. Kalau timbul banyak palung, kami harus waspada,” ujarnya.

Disiagakan enam personel SAR di tiap titik palung. Petugas berjaga sejak 05.00 sampai 18.00 mengikuti peraturan operasional obwis oleh Pemkab Bantul. Namun demikian, petugas menilai sarana dan prasarana penunjangnya kurang. Sebab petugas hanya memiliki empat rambu. “Kami juga butuh sekali kendaraan, untuk monitoring sepanjang lima kilometer lokasi pengawasan, dari Parangtritis sampai Depok. Selama ini kami menggunakan kendaraan pribadi,” keluhnya.

Sementara ahli geomorfologi lingkungan, geomorfologi pesisir dan hidrogeomorfologi dari Departemen Geografi Lingkungan Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada Dr. Langgeng Wahyu Santosa, S.Si., M.Si membenarkan, kencangnya angin dapat berdampak negatif. Angin dapat mendorong gelombang datang tegak lurus dengan garis pantai. Akibatnya menciptakan efek arus balik yang kuat dan bersifat turbulensi atau berputar cepat. Ini dapat memakan korban jiwa, yang sering disebut dengan fenomena rest in peace (RIP) Current.

RIP Current berpotensi terjadi di sepanjang pesisir Bantul sampai Kulonprogo. Fenomena ini paling sering terjadi di Pantai Parangtritis dan Parangkusumo. Tapi, waktu dan lokasi pastinya tidak dapat diprediksi. Masyarakat pesisir biasanya niteni atau menandai terjadinya RIP Current dengan melihat ombak. Bibir pantai yang tidak terdapat ombak dan tampak tenang, padahal sisi-sisinya tampak kencang, di lokasi itu sedang terjadi RIP Current.

Karenanya, masyarakat yang tidak terbiasa di wilayah pantai akan menganggap lokasi itu aman. Padahal menjadi lokasi paling berbahaya. Sebab jika terseret, dipastikan sulit selamat. Maksimal, petugas hanya dapat memberikan peringatan untuk berhati-hati saat berenang atau bermain di air laut. “Jadi pengunjung harus arif dalam mematuhi rambu dan peringatan petugas,” tegas Langgeng. (fat/pra)

Bantul