RADAR JOGJA – Belum usai dihantam pandemi Covid-19, kini produsen tempe dikagetkan harga kedelai melambung. Produsen tempe dengan modal minim pun memilih mogok. Sebab tidak mampu membeli bahan baku dan memenuhi biaya produksi.

Salah satu produsen tempe yang mogok beroperasi adalah Rochmat Kurniadi. Pria 30 tahun itu sudah sebulan tidak lagi membuat tempe. Dia juga merumahkan tiga orang karyawannya. “Kedelai naik, sekarang Rp 1 juta per kuintal,” keluhnya ditemui di kediamannya, Wirokerten, Banguntapan, Bantul Minggu (3/1).

Rochmat menduga, kenaikan harga kedelai diakibatkan terlambatnya pengiriman impor kedelai, dari Amerika ke Indonesia. Harga normal kedelai Rp 670 ribu per kuintal pun mulai merangkak naik. “Bulan kemarin paling mahal Rp 7 ribu per kilogram. Harga melonjak, nggak tahu. Apa karena pengiriman dari Amerika atau keterlambatan cargo mungkin,” ujarnya memperkirakan.

Pria 30 tahun itu lantas memutuskan tidak produksi. Lantaran tidak mampu membayar bayar biaya operasional. Selain itu, dia mengaku tidak mampu membayar gaji tiga orang karyawannya. “Mending libur saja dulu, kurang lebih sudah sebulan,” cetusnya.

Rochmat pun mengaku enggan beralih menggunakan kedelai lokal. Sebab kedelai lokal harganya ternyata lebih mahal. “Kedelai lokal justru lebih mahal, kalau impor saja Rp 7 ribu, lokal sudah sampai Rp 9 ribu, bahkan lebih,” ketusnya.

Sementara pemilik kedai jadah tempe di Pasar Seni Gabusan (PSG) Bantul, Mujiman, mengaku kesulitan mendapatkan tempe. Sekalipun ada, dia tidak diperkenankan memborong tempe oleh pedagang langganannya. “Dulu boleh ambil Rp 60 ribu, sekarang Cuma Rp 30 ribu kadang Rp 20 ribu. Tapi harga tempe nggak naik, cuma harus keliling-keliling,” ujarnya.

Kendati begitu, pria 50 tahun itu mengaku tidak terlalu terdampak. Sebab penjualan jadah tempe di kedainya masih sepi. “Gara-gara Covid-19, PSG sepi. Jadi yang mampir beli jadah juga berkurang,” keluhnya,

Sementara Kepala Dinas Perdagangan (Dinper) Bantul Sukrisna menyebut, kenaikan harga kedelai sudah terjadi sejak awal Desember tahun lalu. Di mana pada akhir November, kedelai impor sudah menyentuh harga Rp 8.200. Sementara kedelai lokal di kisaran Rp 8.750. “Di awal Desember naik, kedelai impor Rp 8.367, yang lokal Rp 9.783,” sebutnya. (fat/pra)

Bantul