RADAR JOGJA – Belum jelasnya kelas tatap muka juga berdampak pada warung di sekitar kampus. Salah satunya warung nasi rames milik Pratina Ariyanti. Ibu satu putra ini memutuskan menutup warungnya sejak kampus menerapkan kuliah online. “Setelah kampus melakukan kelas online, kami langsung libur. Sejak Maret sampai sekarang belum dibuka,” sebutnya Selasa (29/12).

Pratina mengaku menutup warungnya yang berlokasi dekat UAD kampus IV lantaran sepi. Sebagian besar konsumen Pratina, memang mahasiswa kampus yang berlokasi di Tamanan, Banguntapan, Bantul itu. “Aku nggak mau jual kalau sedikit, karena ada biaya produksi dan harus gaji karyawan,” ujarnya yang kini beralih menekuni usaha gas itu.

Pratina berencana membuka kembali warung saat kampus kembali kuliah menggelar tatap muka. Saat ini ia terpaksa merumahkan tiga karyawannya. “Semoga kampus segara buka dan memberikan kami angin segar,” harapnya.

Sementara Nita Nur Hayati masih membuka warung ayam miliknya yang berada dekat kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Kendati omzet warungnya turun drastis. Biasanya, omzet warung milik perempuan 36 tahun itu mencapai Rp 2 juta per hari. Sekarang tidak sampai Rp 1 juta. “Saya memutuskan untuk tetap beroperasi, karena itu satu-satunya usaha. Kasian karyawannya juga,” ucapnya.

Diakui, pelanggan utama warung ayam milik Nita adalah mahasiswa. Nita juga kerap mendapat pesanan dari kampus saat mahasiswa menggelar acara. Selain dari mahasiswa yang nongkrong di warungnya. “Ya, sekarang cuma mengandalkan pesanan online,” keluhnya.

Sepinya warung membuat Nita terpaksa merumahkan empat karyawan. Sebab, satu warung milik Nita omzetnya sangat rendah dan harus ditutup. Lantaran tidak dapat menutup biaya produksi. “Warung yang di depan ISI, satu karyawannya juga sudah saya rumahkan. Kadang saya atau suami juga ikut jaga di sana,” ungkapnya. (fat/laz)

Bantul