RADAR JOGJA – Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan dipastikan beroperasi hari ini. Setelah ditutup paksa oleh warga selama lima hari sejak Jumat (18/12). Lantaran pengelola dianggap abai terhadap dampak dari aktivitasnya.

Kepala Balai Pengelolaan Sampah TPST Piyungan, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIJ Fauzan Umar bersyukur. Telah memediasi warga sekitar TPST Piyungan bersama Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral Provinsi (PUP-ESDM) DIJ guna mencari solusi dari keluhan warga. Agar warga berkenan untuk membuka akses jalan menuju TPST Piyungan, sehingga TPST dapat beroperasi kembali.

“Dermaga sudah kami tata, untuk membuat drainase, alhamdullillah, saya menghadirkan dinas PUP-ESDM yang mengerjakan proyek. Besok tim perencanaan turun ke lapangan untuk melakukan pengukuran, perencanaan, desain, kemudian pelaksanaan. Tuntutan warga sekitar sudah kami penuhi. Dan mereka sudah mengizinkan besok (hari ini, Red) buang sampah,” papar Fauzan saat dihubungi Radar Jogja Selasa (22/12).

Sementara untuk lampu penerangan yang mati hampir enam bulan, Fauzan berkilah sudah mengatakan pada warga untuk menyampaikan tuntutannya. Setelah itu akan dicarikan solusi bersama dinas terkait. “Nanti akan kami mediasi dengan dinas terkait,” sebutnya.

Sebelumnya, pada pukul 13.00 gerbang menuju dermaga TPST Piyungan dibuka. Maka sopir armada masuk menuju dermaga. Tapi, warga kukuh tidak memperkenankan armada melakukan bongkar muat. Akibatnya antrean armada mengular sekitar 200 meter. Salah satunya, Marjadi.

Pria 30 tahun itu menunggu sekitar tiga jam. Dia mencoba peruntungan, dapat bongkar muat setelah lima hari tidak dapat membuang sampah. Namun harus putar balik, pulang kembali membawa sampah. “Mengantre, saya tidak tahu. Kenapa belum bisa buang. Infonya simpang siur. Itu lagi ngobrol belum ada kesepakatan. Seharusnya kalau tidak boleh membuang, kan di sana jalannya ditutup. Ngapain dibuka,” ketusnya. Ia biasa beroperasi di daerah Jetis, Bantul.

Sementara itu juru bicara warga sekitar TPST Piyungan, Maryono mengaku kaget. Ada antrean armada pengangkut sampah. Padahal, belum ada kesepakatan bersama antara warga dan pengelola. “Jam 13.00 truk sampah masuk, tapi warga tidak diberi tahu. Terutama wilayah Lengkong RT 06 dan Sentulrejo. Tahu-tahu ada truk sampah mau buang,” sebutnya.

Ia menyebut, warga bersikukuh masih menutup akses TPST Piyungan, kendati dermaga pembuangan sudah ditata oleh pengelola. Sebab, tuntutannya terkait drainase belum dipenuhi. “Drainase sementara belum dikerjakan kok sudah masuk ke lokasi pembuangan, yang memperbolehkan truk masuk adalah Pak Kasi Aris,” sebutnya.

Revitalisasi atau pembuatan drainase dinilai penting. Sebab di musim penghujan, air mengalir bebas ke permukiman warga di bawah TPST Piyungan. Curahan itu deras dan mengandung limbah. Bahan sempat membuat jurang dekat permukiman warga longsor. “Poin itu dikerjakan dulu, tuntutan yang lain, bisa menyusul,” tandasanya. (fat/laz)

Bantul