RADAR JOGJA – Persoalan TPST Piyungan tak ada habisnya. Warga setempat kembali menutup TPST Piyungan. Lantaran geram, keluhannya tidak diperhatikan oleh pengelola. Belasan warga duduk di pos ronda dekat gerbang TPST Piyungan. Menghalau armada memasuki area TPST untuk bongkar muat.

Penutupan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan dilakukan warga sejak Jumat pagi (18/12). Namun, kali ini warga tidak membuat rontek melakukan pemblokiran. Penutupan TPST Piyungan ini sebagai bentuk keluhan warga, karena geram. Aspirasi sejak Maret 2019 sampai sekarang belum ada realisasi. “Kesabaran kami habis, akhirnya menutup tempat pembuangan, tempat pembuangan tidak layak,” ketus Juru Bicara Warga Sekitar TPST Piyungan, Maryono pada Radar Jogja ditemui kemarin (18/12).

Mereka hanya menghalau armada yang mencoba masuk. Itu dimaksudkan agar tidak terjadi antrean, seperti Kamis lalu (17/12). Sopir armada diminta putar balik ke deponya masing-masing. “Kami juga beritahukan melalui WhatsApp (WA) juga. Supaya tidak mengganggu aktivitas masyarakat. Warga juga tidak berkumpul banyak, karena ada Covid-19,” jelasnya.

Dia menegaskan, warga bersikukuh baru membuka kembali TPST setelah pengelola memenuhi tuntutannya. Pertama, pengelola harus menyediakan dermaga pembuangan sejauh 200 meter dari jalan umum.Kedua, lampu penerangan jalan sudah hampir enam bulan tidak menyala. Bahkan, sampai menyebabkan warga menabrak alat berat. Ketiga fogging nyamuk dan lalat yang sudah hampir dua tahun tidak dilakukan.

Selain itu, warga juga mengeluhkan tidak adanya drainase yang baik, sehingga menyebabkan longsor. Padahal area longsor merupakan tebing bebatuan. Kelima, kebersihan jalan dan lingkungan hanya dibersihkan enam kali dalam setahun. “Tapi intinya, warga akan tetap menutup kalau belum dibuatkan tempat pembuangan yang luas dan lancar. Juga kompensasi per kepala kelauarga (KK). Kami belum pernah mendapat kompensasi selama 25 tahun. Apa layak, kami hanya dijamu limbah, bau, dan sampah selama kurang lebih 25 tahun,” keluhnya.

Sementara itu, sopir armada sampah Hari Al-Kodari mengaku pasrah. Pria 33 tahun itu sudah mencoba membawa armadanya masuk ke TPST Piyungan. Tapi harus terima, pulang tanpa bongkar muat karena dihalau warga. Hari pun sudah memberitahu pelanggannya, jika TPST Piyungan ditutup. Sehingga tidak dapat menjemput sebagian sampah pelanggan. “Belum mengambil semua. Kemarin juga ada kendala di armada dan pengambilan telat. Keadaan beberapa hari ini juga memang susah, hujan terus,” sebut yang biasa beroperasi di area Banguntapan itu. (fat/pra)

Bantul