RADAR JOGJA – Mayoritas pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) belum terdaftar resmi. Dari sekitar 121 ribu UMKM, baru sekitar 48 ribu yang terdata oleh Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian (DKUKMP). Kendalanya, ada di sumber daya manusia (SDM).

Kepala DKUKMP Bantul Agus Sulistiyana mengatakan, ribuan UMKM yang belum terdaftar menemui kendala. Salah satunya adalah keterbatasan pengetahuan teknologi. Khususnya pelaku UMKM berusia sepuh.

Selain itu, pelaku UMKM yang terbiasa memperdagangkan produknya di lokasi wisata cenderung enggan beralih. “Kasus per kasus, sangat variatif. Ada yang merasa (cukup, Red) ketika jualan di objek wisata mengandalkan tatap muka,” jelas Agus Selasa (7/12).

Padahal, pemanfaatan teknologi dapat meningkatkan optimalisasi penjualan. Seperti salah satu pemuda pelopor. Awalnya hanya mengikuti pelatihan frozen food. Sekarang sudah buka franchise. ”Ini bisa mendorong, anak muda yang awalnya tidak ada kegitan selama pandemi untuk berwirausaha,” paparnya.

Sementara itu, salah satu pelaku UMKM, Arifin mengaku belum mampu melakukan pemasaran online. Sebab, produk kerajinannya dibuat dengan proses panjang, hingga 2 bulan. Apalagi tenaga yang diberdayan hanya warga sekitar rumahnya. Sehingga, dalam menyelesaikan produk tidak bisa menentukan target.

“Takut juga, naikin (mengunggah produk di pasar online, Red), jika barangnya belum tentu ready,” kata Arifin ditemui di rumahnya, Wirokerten, Banguntapan, Bantul.

Arifin pun lebih mengandalkan relasi yang sudah terjalin lama dengan toko konvensional. “Saya mengutamakan terpenuhinya permintaan toko atau pesanan,” ungkapnya menambahkan.

Pedagang ikan hias di Kadisoro, Gilangharjo, Pandak, Bantul Ismayadi justru tidak tertarik pemasaran online. Pria 37 tahun ini pernah membuat blog dan prototype pemasaran digital. Namun hanya berjalan seminggu. Lalu Ismaya memilih menutupnya. “Lah yang tanya sama yang beli, banyak yang tanya,” ketusnya.

Selain itu, pedagang ikan hias yang sudah merintis usaha sejak 25 tahun lalu ini merasa terganggu. Banyaknya pertanyaan yang harus dijawab justru membuat tidak fokus. “Lagi ngomong (mengobrol dengan calon pembeli, Red) terus main handphone (HP). Itu mengganggu,” ujarnya.

Selain itu, produk dan foto yang diunggahan oleh Ismayadi kerap dicomot oleh pedagang lain. Lebih parah, foto unggahan Ismayadi beberapa kali dipakai oknum penipuan. “Foto lahan saya dibajak untuk menipu. Weslah, saya nggak usah online. Begini saja saya sudah kewalahan melayani permintaan pembeli,” ucapnya. (fat/bah)

Bantul