RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 membuat sebagian masyarakat berpikir kreatif. Memanfaatkan waktu luang, untuk berkegiatan di luar rutinitas biasa. Salah satu kreativitas yang tergali potensinya adalah Lereng Gamal di Dusun Karet, Pleret, Bantul.

Ide penggalian Lereng Gamal muncul dari Kimpling dan Eko Pleret, 40. Mereka memanfaatkan sebuah lereng yang penuh semak. Ditumbuhi pohon yang oleh Orang Jawa sering disebut resede atau liri. Pohon ini memiliki nama latin Gliricidia sepium. “Itu nama resmi pohonnya gamal,” cetus Kimpling ditemui di objek wisata (obwis) ristisannya Senin (7/12).

RINDANG: Wisatawan menikmati pemandangan warung kopi di Lereng Gamal (7/12). Banyak potensi wisata yang sedang digarap untuk lebih mengenalkan wisata di Lereng Gamal.(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)

Pohon gamal mampu bertahan di semua kondisi. Ini menambah keistimewaan. “Pohon ini, walau sedang musim kering, dia nggak mati. Dia tetap hidup. Itu membuat saya termotivasi,” sebutnya.

Sebelumnya, Kimpling dan Eko merupakan tim outbound di sebuah obwis di Pleret, Bantul. Terkendala lahan dan konflik akhirnya membuat mereka terdepak dari kepengurusan obwis. “Outbound sudah jalan, tapi terkendala di masalah lahan. Saya nggak putus asa. Pingin bikin lagi di lahan dan tempat sendiri,” ujar Kimpling.

Mengajak tiga orang rekan, pria 45 tahun itu membabat tanah seluas dua hektare. Lalu membuat sebuah warung kopi di puncak lereng. Tujuan awalnya, untuk tempat nongkrong dia dan teman-teman komunitasnya. “Dari warung ini, saya ingin memperkenalkan Lereng Gamal,” ucapnya.

Selanjutnya, Kimpling berencana membuat wahana tambahan. Seperti flying fox, panjat tebing, dan tracking jalan kaki. Namun, konsep obwis yang diinginkannya adalah wisata edukasi. Kimpling sudah menyediakan beberapa sarana pendukung. Misalnya bekas mesin cuci. Untuk dijadikan tempat duduk dan meja. Selain itu, dia didukung oleh Eko yang mengerti tanaman. khususnya bonsai.

Eko menyebut, mereka nekat membuka owbis Lereng Gamal sebagai motivasi. Agar masyarakat tidak fokus pada takut menghadapi pandemi Covid-19. “Itu justru membuat imunitas turun,” ucap Eko.

Eko mengklaim, telah mencoba menerapkan protokol kesehatan (prokes) di obwisnya. Namun, pengunjung yang enggan disebutkan namanya mengkritik, pengelola Lereng Gamal masih abai. Sebab pria 47 tahun itu melihat banyak pengunjung yang tidak menggunakan masker. Selain itu, belum tersedia tempat cuci tangan dan toilet. “Sepertinya belum siap buka, tapi semoga ke depannya pengelola memperbaiki,” harapnya. (fat/pra)

Bantul