RADAR JOGJA – Dokumentasi seni pertunjukkan merupakan hal penting. Namun, beberapa seniman luput untuk memperhatikannya. Termasuk karya maestro tari Bagong Kussudiardja. Sempat terkubur, dan tidak memiliki dokumentasi pementasan.

Hal tersebut disayangkan oleh salah seorang murid Bagong, Kwee Tjoen Lian atau yang akrab disapa Didik Nini Thowok. Kepada anak Bagong, Butet Kartaredjasa, pria 66 tahun itu menyampaikan keinginannya, untuk dapat menarikan kembali karya Bagong.

“Saya iseng ke Butet, sudah ada dokumen tari dari Pak Bagong, belum? Ternyata belum ada,” ujar Didik usai dokumentasi Tari Tenun di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) Jumat (4/12).

Dari keinginan tersebut, tercetuslah ide “Ngayah”. Sebuah penghargaan bagi guru dari muridnya. Sekaligus pengakuan Didik, bahwa dirinya belajar menari dari Bagong.

Dikatakan, dirinya ingin bercerita kepada pada followers, kalau Bagong merupakan gurunya. Dia mengkalaim menguasai tarian Bagong. ”Selama ini belum terekspose kan, kalau aku muridnya Bagong. Ngayah itu, tradisi di Bali untuk menghargai guru atau berbuat sesuatu kepada guru, sekarang istilahnya tribute,” paparnya.

Untuk mewujudkan keinginan Ngayah, Didik merayu penari senior. Sebab Didik ingin menjadi jembatan antara generasi senior dan muda. “Saya merayu penari senior, untuk turun gunung. Harus tampil, ra ketang (meskipun hanya) satu tarian. Mas Butet juga setuju,” sebutnya.

Maka terjadilah kolaborasi, dalam satu tarian, terdapat golongan senior dan yang muda. “Biar yang muda belajar dengan yang tua,” imbuhnya.
Di sisi lain, katanya penari senior kembali terdongkrak kepercayaan dirinya. Setelah sebelumnya enggan tampil lagi, karena merasa fisiknya sudah tidak layak. Padahal menurut mantan Dosen Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), sekarang Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu, penari senior justru memiliki aura yang luar biasa. Selain itu, penari senior dinilai sudah memiliki kemantapan. “Menari bukan lagi untuk eksistensi, tapi karena pemaknaan,” tegasnya.

Oleh sebab itu, dalam Ngayah, Didik sengaja menggunakan kostum asli sejak tarian diciptakan oleh Bagong. Sebuah proses yang ingin dikenalkan Didik pada generasi muda. Yakni sejarah.

Hal ini ditangkap oleh salah satu penari yang turut serta dalam Ngayah, Ganggas Jatma Pramudita. Mahasiswa Seni Tari ISI Yogyakarta itu mengaku bangga dapat terlibat. “Ini pengalaman yang sangat berharga, bisa mempelajari karya yang sudah terkubur lama dan tidak terdokumentasi,” ucapnya.

Cucu Bagong sekaligus Koordinator Ngayah, Indiartari Kurnowari mengatakan, terdapat delapan tarian yang direkonstruksi. Tujuh tarian karya Bagong dan satu karya dari Bimo Wiwohatmo. Tarian yang didokumentasikan merupakan tari periode 1960. “Mas Didik punya keinginan untuk mendokumentasikan lagi tarian-tarian itu. Dan suatu ketika Mas Didik ketemu Mas Butet, gayung bersambut. Yang ikut serta semua anggota Pusat Latihan Tari (PLT) Bagong Kussudiardja dari empat generasi,” ungkapnya. (fat/bah)

Bantul