RADAR JOGJA – Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Jogjakarta (Dinpar DIJ) memberikan pendampingan pada Desa Sabdodadi, Kecamatan Bantul, Bantul. Pendampingan bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM). Sekaligus membangun sinergitas desa melalui wadah lembaga wisata Desa Mandiri Budaya Sabdodadi.

Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Kapasitas Dinpar DIJ, Wardoyo mengatakan, kegiatan pendampingan dilakukan untuk penyempurnaan, sebelum menerima Surat Keputusan (SK) Desa Mandiri Budaya DIJ dari Gubernur DIJ Hamengku Buwono X. ”Desa mandiri budaya sendiri merupakan sebuah predikat bagi sebuah desa,” yegas Wardoyo Selasa (1/11).

Artinya, desa tersebut telah memenuhi syarat menjadi desa wisata, budaya, preneur, dan prima. Di bawah bimbingan empat organisasi perangkat daerah (OPD), yaitu Dinpar, Dinas Kebudayaan, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk, dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan. “Kami mencoba untuk mempersiapkan SDM di Desa Sabdodadi.

Untuk memiliki satu spirit, semangat, dan kreativitas dalam mengembangkan dan menyiapkan diri menjadi desa mandiri budaya,” ujarnya ditemui di sela pendampingan Selasa (1/12).

Diharapkan, pelatihan dapat dimanfaatkan dan berdaya guna demi terciptanya Desa Mandiri Budaya Sabdodadi. Sebab, Dinpar DIJ telah menghadirkan tenaga ahli dan asosiasi pariwisata sebagai narasumber dan pembimbing. “Kami siapkan beberapa tenaga ahli, instruktur dan narasumber yang membidangi keahliannya masing-masing. Untuk memberikan penguatan SDM di Sabdodadi. Sehingga pada waktunya, desa mandiri budaya dapat terwujud,” ucapnya.

Sementara itu instruktur pendamping Desa Mandiri Budaya Sabdodadi Ike Janita Dewi mengatakan, bila kemandirian desa tumbuh dan berkembang, peningkatan taraf kesejahteraan ekonomi masyarakat juga berkembang secara mandiri. Terlebih, Desa Sabdodadi telah memiliki berbagai potensi.

Menurutnya, Sabdodadi memiliki potensi yang sangat banyak. Bidang budaya yang salah satu yang paling penting. Juga sudah memiliki ikon kerajinan desa wisata Manding. ”Selain itu wisata alam sangat potensial. Dari preneur, sudah ada upaya menunjukkan olahan pangan,” jelas Ike.

Namun, Ike menilai, Desa Sabdodadi belum menjalin koordinasi dan integrasi yang baik. Sehingga setiap potensi justru berjalan masing-masing. “Itu pun diakui (oleh peserta, Red) sebagai kelemahan. Sehingga menjadi agenda kami untuk membentuk kelembagaan desa mandiri budaya. Untuk menyatukan keempat potensi dalam satu wadah yang bersinergi, berkomunikasi, dan berkoordinasi,” cetusnya.

Peserta pendampingan sekaligus Ketua Paguyuban Perajin Kulit Manding, Jumakir mengapresiasi langkah Dinpar DIJ. Sebab, pendampingan yang dijalaninya menunjang dan dibutuhkan. Sekaligus membantu Desa Sabdodadi mengkoordinir potensi. “Sebelumnya kami jalan sendiri-sendiri, dengan adanya pendampingan, kami disatukan dan dikolaborasikan di satu pintu. Mangkanya yang dibutuhkan adalah SDM, namanya pengertian,” tuturnya. (fat/bah)

Bantul