RADAR JOGJA – Usia Aswar AN telah senja. Itu tampak dari wajahnya keriput dan beruban. 48 lalu, salah satu tokoh teater ini mendirikan Teater Alam di Jogjakarta.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, BANTUL, Radar Jogja

Sore itu hujan mengguyur hampir merata wilayah Jogjakarta. Tokoh teater sekaligus Sutradara kondang, Aswar AN tinggal di Perum Wirokerten indah, Jalan Sawo, Mutihan, Banguntapan, Bantul.

Setiba disana, pun tuan rumah menyambut dengan teh hangat yang disajikan di bangku teras rumahnya.

Tatapannya masih tajam, namun tak banyak menceritakan tentang dirinya. Sebuah buku disodorkan. Dan tepat, menjawab pertanyaan yang terlontar, siapa sosoknya. “Jika ingin mengenal saya, ini,” tegasnya sembari menunjukkan buku bertuliskan namanya dan Manusia Teater.

Ya, Aswar AN merupakan pria kelahiran Palembang, 1940. Dikisahkan, masa kecilnya bengal terkenal nakal. Tiada hari tanpa berkelahi. Namun, dia sosok yang mencintai keluarganya. Bahkan, pekerja keras. Berdagang telur hingga obat-obatan, minyak ataupun balsem. Pekerjaan itu dia lakoni sejak duduk di kelas lima SD. Dia merupakan anak sulung dari sembilan saudara.

Tinggal di keluarga pecinta sandiwara yang disebut tonil, rupanya memupuk keinginannya berkecimpung dunia teater. Lantas dia mempraktekkan.

Kepiyawaiannya dalam bermain peran menuntunya menyutradarai pementasan. Naskah pertamanya diberi judul Pemetik lada.
Semakin besar mimpinya. Usai lulus SMP dia memberanikan diri hijrah ke Kota Gudeg. Kotanya pendidikan, Jogjakarta. Dan melanjutkan sekolah di SMA Muhammadiyah 2 Jogjakarta.

Menurutnya, berada di Jogjakarta merupakan kesempatan besar. Menyerap segala ilmu. Tak hanya pendidikan, namun juga budaya. Hal itu mengantarkannya bergabung di beragam kelompok ataupun komunitas seni teater. Mulai dari Teater Muslim yang dipimpin Mohammad Diponegoro, mendirikan Bengkel Teater bersama WS Rendra hingga mendirikan Teater Alam.

“Saya dan Rendra berkawan. Hingga saya menemukan karakter saya dan mendirikan Teater Alam,” ucapnya.

Konon, Bengkel Teater merupakan pertunjukkan yang ditunggu-tunggu. Sebab, digarap dengan detail. Mulai dari dekor panggung hingga naskah ceritanya. Kendati begitu, dimainkan secara modern. “Yang paling saya sukai itu saat memainkan peran Oidipus Rex dan Hamlet. Saya ingat betul pembawaanya,” ujarnya duduk sembari menatap hujan.

Pada 1971, merupakan pertunjukan terakhir Aswar setelah melakukan pementasan berjudul Dunia Aswar. Ingatannya tentang teater masih melekat kuat dibenaknya. Namun, daya tak sekuat dulu. Pengalaman itu membawanya kepada kisah yang tak terlupakan. Bahkan, masih menjadi idola tersendiri penikmat sandiwara era itu. Teater alam menjadi wujud kreativitas yang menonjolkan ketegangan antara nilai tradisi dan modern. Setidaknya tercatat 8 naskah karangannya.

“Kala itu bermain teater sangat total. Sangat menjiwai,” ingatnya.
Berkat profesionalitasnya itu membawanya keliling nusantara. Bahkan kerap kali tampil diacara televisi kala itu. Selain itu dia juga lernah menjadi pendidik (Dosen) Teater di Institute Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Kini, bukan lagi dia yang bermain peran. Bakatnya turun kepada anak-anaknya. 47 tahun pencapaian itu menjadi prestasi tersendiri bagi Aswar. (bah)

Bantul