RADAR JOGJA – Beberapa jenis usaha kecil dan menengah (UKM) mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19. Bahkan ada yang melejit karena dinilai dapat melawan virus korona ini. Salah satu UKM yang melejit saat pandemi adalah pengusaha wedang uwuh.

Pedagang wedang uwuh di Imogiri Zajimah Ibrahim bahkan menaikkan harga wedang uwuh sebanyak 20 persen. Kemasan yang biasanya dijual Rp 4.000 menjadi Rp 5.000, sedangkan kemasan Rp 3.000 dijual Rp 4.000. “Lah semuanya naik, jahe jadi Rp 75 ribu dari Rp 30 ribu,” ujarnya saat ditemui di warungnya Minggu (29/11).

Saat awal pandemi, Zajimah bahkan sampai menolak pembeli. Lantaran kehabisan stok barang atau kelelahan. Ia saat itu mampu menjual 1.000 bungkus wedang uwuh per hari. “Banyak yang cari sampai nolak-nolak duit,” ucapnya.

Sementara pedagang lainnya, Samidi menerima pesanan sampai 2.000 bungkus. Permintaannya pun tidak hanya datang dari DIJ. “Dari Bali minta 500, tapi cuma dapat 300,” sebutnya.

Pandemi Covid-19 juga berdampak positif pada industri gerabah. Pengelola Koperasi Kasongan Usaha Bersama (KUB) Sundari mengungkap, industri gerabah sempat mengalami mati suri pada Maret dan April. Perajin gerabah ketiban rejeki setelah menerima banyak pesanan. Seperti perangkat pendukung kesehatan berupa wastafel. Pot gerabah pun turut menjadi komoditas yang paling diminati. Mengikuti naiknya pula tren pecinta tanaman.

Sebelum pandemi, Koperasi KUB menerima permintaan dua pikap tanah liat per hari. Tapi sekarang permintaan bisa sampai empat pikap per hari. Lonjakan permintaan tanah liat disebut tanda geliat gerabah melesat. Perajin bahkan sampai lembur untuk memenuhi pesanan. “Ada juga yang bukan perajin, tapi coba-coba bikin pot bunga. Eh laku,” cetusnya.

Kepala Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian (DKUKMP) Bantul Agus Sulistiyana membenarkan, tidak semua UKM terdampak pandemi. Terutama UKM olahan pangan dan jamu. “Minuman tradisional lebih meningkat dan lebih tahan guncangan Covid-19,” ujarnya.

Namun Agus menyayangkan, dari sekitar 121 ribu UKM di Bantul, baru sekitar 48 ribu yang terdata oleh DKUKMP. “Setengahnya belum ada, sehingga kami di perisai berikutnya akan kami canangkan digitalisasi,” cetusnya. (fat/laz)

Bantul