RADAR JOGJA – Rintik gerimis masih turun. Membasahi halaman dengan genangan. Tumpukan kursi plastik juga berjejer di bawah tarup. Haru, di kediaman Gino Naryo, korban kecelakaan mobil pikap yang dikemudikan anak 15 tahun di Jalan Parangtritis Km 11, simpang tiga Dusun Tanjungkarang, Patalan, Jetis, Bantul, Sabtu (28/11).

 SITI FATIMAHBantul, Radar Jogja

Menantu pertama Gino, Edy Cahyono menemani koran ini. Pria 38 tahun itu mengaku tidak mengetahui secara pasti kronologi meninggalnya bapak mertuanya. Sebab, dia tidak berada di lokasi saat peristiwa terjadi.

“Tiap pagi dan sore Bapak sering menyeberang di jalan tempat kejadian perkara (TKP). Karena sawah ada di seberang dusun,” ungkap Edy saat ditemui di kediaman Gino, Dusun Tanjungkarang, Minggu (29/11).

Sesaat sebelum peristiwa, kakek tiga cucu itu mengambil bibit padi yang berada di sawah dekat rumah. Untuk dibawa ke sawah di seberang dusun. Kemudian sekitar pukul 09.15, peristiwa naas itu terjadi. Gino yang mengendarai Honda Beat ditabrak dari belakang dan mengalami cedera berat di kepalanya. “Kepala sebelah kanan bagian belakang pecah. Terus dibawa ke RSUD Panembahan Senopati,” ucapnya, mencoba tegar.

Dikatakanya, ibu mertuanya melihat langsung ke TKP, sesaat usai kejadian. “Sampai sekarang masih syok. Tidak mau makan,” sebutnya, lantas tertunduk.

Tercekat lantas mengambil napas panjang. Sesaat Edy mengusap kedua matanya yang sudah merah. Kemudian berujar, “Bapak masih produktif dan tulang punggung keluarga.”

Ya, kendati anak-anak Gino sudah berkeluarga, mereka masih tinggal satu rumah. Mereka hanya berpenghasilan sebagai buruh harian lepas. Kendati begitu, keluarga tidak memiliki firasat akan kepergian Gino.

“Kemarin juga banyak yang tanya sebab meninggalnya bapak, dan kaget. Mungkin Allah lebih sayang dengan bapak. Bapak selalu salat lima waktu. Kalau sempat menyusul ke musala. Maghrib dan Isya pasti berjamaah,” isaknya.

Dalam benak Edy, Gino adalah sosok mertua yang sabar dan pemurah hati. Ayah dua anak ini tidak pernah melihat mertuanya itu membentak atau marah. Selain itu, jiwa sosial Gino tinggi. Sebab dia selalu bersedia menyisihkan bahunya tiap ada kegiatan sosial.

Melalui kejadin ini, Edy berharap pengemudi mobil yang menyebabkan mertuanya meninggal dapat menarik pelajaran. Dia pun turut mendoakan, pelaku yang masih berusia 15 tahun itu dapat menjadi anak saleh dan kebanggaan orang tuanya di kemudian hari.

“Namanya sudah halangan. Kecelakaan secara emosional kami tidak terima. Tapi gimana lagi, sudah takdir. Insya Allah kami ikhlas. Kami cuma berharap, bapak tenang di sana,”  ujarnya lirih. (laz)

Bantul