RADAR JOGJA – Sebanyak 30 patung berjejer rapi. Patung berwarna putih itu berdiri tegak menghadap Dekanat Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (FSR ISI) Yogyakarta. Keberadaanya bahkan mampu membuat merinding orang yang melintas.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Patung-patung itu karya Purtijo. Dia lulusan FSR ISI, yang sudah 30 tahun berkiprah dalam seni patung.

Mendengar narasi karyanya yang disebut wujud sebuah protes, Purtijo menggapi dengan tawa. ”Mahasiswa penat dengan kuliah online, lantas kampus dibiarkan ‘berpenghuni’,” katanya kepada Radar Jogja.

PENASARAN: Warga berkunjung ke ISI Yogyakarta untuk sekedar melihat deretan patung putih berwujud perempuan menggunakan mukena (27/11).(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)

Dia pun tak mempersoalkan jika patung-patung itu disebut penghuni baru ISI. Sebab itulah yang selama ini ditangkap masyarakat. ”Bebas, silahkan,” ujarnya

Purtijo mengatakan 30 patung karyanya yang dijejer itu hanya sebagian dari karya aslinya. Sebab jumlah asli dari patung-patung itu adalah 99 atau 100.

“Karena kami memberangkatkan karya di tahun berbeda dan ditampilkan di tempat yang berbeda,” katanya.

Ya, patung-patung Purtijo itu sudah ada beberapa tahun silam. Patung itu dibuat sekitar tahun 2013. Merespon gaduhnya dunia perpolitikan menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres). Purtijo membuat patungnya selama empat bulan. “Waktu itu, 2013 sudah mulai panas,” ujarnya mencoba mengingat.

Lantas muncullah gagasan untuk membuat patung-patung itu. Renungan untuk kembali ke dalam. Menapaki sisi tengah dan tidak terjebak pada sisi kanan dan kiri. “Karya ini tidak bias, sampai kapanpun kalau kita maju, dan selalu menarik,” cetusnya.

Putijo berkisah, dalam pameran pertamanya, patung-patung ini dijejer dengan cermin di belakangnya. Sehingga menciptakan ilusi, bahwa patung berjumlah ribuan. Bahkan, Emha Ainun Nadjib, atau tersohor dengan nama Cak Nun memberikan apresiasi.

“Dulu yang membuka Cak Nun, dan setelah itu beliau memberikan tausiahnya. Imej patung yang dipandang kurang baik mampu beliau jelaskan. Untuk dapat dihargai sebagai sebuah karya seni,” tuturnya.

Terpisah, Dosen FSR ISI Mikke Susanto mengungkap, patung-patung karya Purtijo sengaja dipinjam. Dalam rangka pameran internasional di ISI pada 10 Desember mendatang. Patung-patung itu baru sekedar diletakkan. ”Belum pada posisi seharusnya mereka diletakkan,” jelasnya.

Mikke pun didaulat sebagai kurator dalam pameran itu. Dia juga mengungkap, nantinya ada 70-100 karya yang dipamerkan. Dan semua senimannya, adalah lulusan ISI Yogyakarta.

“Jadi sebenarnya, kami tidak ada maksud tertentu meletakkan patung-patung itu berjejer,” ucapnya.

Bahkan Mikke kaget, saat mengetahui peletakkan patung ternyata menarik rasa penasaran. Dan justru mengembangkan narasi tentang adanya protes. “Kami juga kaget, ini belum di-display. Kami taruh dulu dalam kampus. Terus yang motret belum tahu konsepnya, tiba-tiba begitu. Karena yang berkembang karena sudah kangen kuliah tatap muka,” dia terbahak. (bah)

Bantul