RADAR JOGJA – Rencana kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka disambut optimisme. Salah satunya oleh Kepala SMPN 1 Imogiri, Kuwatono.
“Kami optimistis karena semua sebenarnya sudah kangen. Guru sudah kangen siswa, siswa juga kangen guru. Paling indah tatap muka,” ujarnya ditemui di kantornya Rabu (25/11).

Optimisme Kuwatono beralasan. Sebab sekolahnya telah melengkapi diri dengan protokol kesehatan (prokes). Seperti menyediakan tempat dan sabun cuci tangan di tiap kelas. Sekolah juga sudah menyediakan empat thermo gun. Selain itu, melalui program konsultasi, Kuwatono menilai, semua dapat berjalan dengan aman. ”Respon orang tua juga bagus. Dari itu, kalau ada instruksi, Januari bisa tatap muka, kami siap,” ucapnya.

Kendati begitu, Kuwatono tetap akan mematuhi instruksi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul. Terkait izin menggelar KBM tatap muka. Disebutkan pula, KMB tatap muka tidak akan serta-merta digelar seperti sebelum pandemi. Namun bertahap selama beberapa bulan. “Mungkin 50 persen dulu, jika evaluasinya aman, baru tatap muka seluruhnya,” paparnya.

Diakui, pandemi Covid-19 turut berdampak positif. Di mana guru mengalami lompatan dalam inovasi pembelajaran. Disebut, tes akhir semester akan dilangsungkan pada 7-14 Desember. Untuk selanjutnya pembagian raport dilakukan pada 18 Desember.

Sementara Afanur Kholif Aulia, mengaku kesulitan dalam memahami beberapa materi mata pelajaran. Seperti Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris. “Jadi mengikuti kelas konsultasi tiap Selasa dan Sabtu,” ungkap gadis 12 tahun itu.

Senada, Anggi Sri Anggraeni merasa pusing, karena susah memahami materi pembelajaran selama pembelajaran jarak jauh. “Sinyal juga kadang bermasalah, kuotanya habis. Senengnya sekolah full, karena bisa memahami materi pelajaran lebih baik,” ujar siswa kelas VIII itu.

Kendati masih merasa was-was, Waris Sukiyati, pun mengaku senang jika anaknya biasa datang ke sekolah. Sebab anaknya yang duduk di bangku kelas VII kesulitan dalam materi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

“Kalau normal seperti sebelum pandemi, saya belum berani. Tapi kalau masuk seminggu dua kali dengan kelompok kecil, monggo,” pinta perempuan 40 tahun itu.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul Agus Budi Raharja mengaku telah melakukan koordinasi bersama Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIJ dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI),untuk berdiskusi tentang pelaksanaan KBM tatap muka. “Menyambung hal ini, kebijakan Kementerian Pendidikan, semuanya diserahkan ke daerah. Kami juga belum diskusi lebih detail di kabupaten,” ujarnya.

Uji coba konsultasi sekolah pun disebut Agus dapat dijadikan penilaian. Terkait efektivitas kemampuan sekolah menerapkan prokes. Namun, keputusan untuk menggelar KBM tatap muka disebut Agus, harus mempertimbangankan tingkat penularan Covid-19.

“Jika tren terus meningkat, apa kemudian kami berani tatap muka?” ucapnya.
Mengingat pula akan ada libur panjang di akhir tahun. Di mana risiko penularan Covid-19 dapat terjadi. “Risiko akan dilihat dampaknya setelah ada kegiatan di masyarakat. Harapan kami masyarakat taat prokes, sehingga tidak terjadi penularan yang masif. Kalau banyak yang lalai dan terjadi penularan masif ini tentu menjadi pertimbangan,” paparnya. (fat/bah)

Bantul