RADAR JOGJA – Keseriusan dalam menangani pandemi Covid-19 ditunjukkan Pemkab Bantul. Itu terlihat besarnya anggaran yang dialokasikan pemkab untuk menangani penularan penyakit dari Tiongkok tersebut.

Sekretaris Daerah Bantul Helmi Jamharis menyebut anggaran yang dialokasikan pemkab untuk menangani Covid-19 Rp 115 miliar. Anggaran sebesar itu merupakan hasil refocusing.

“Untuk sektor kesehatan sendiri sekitar Rp 92 miliar,” sebut Helmi di ruang kerjanya Kamis (26/11).

Anggaran itu, kata Helmi, untuk memenuhi berbagai kebutuhan medis di dua rumah sakit. Yakni, RSUD Panembahan Senopati dan Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid (RSLKC). Alasannya, dua rumah sakit itu untuk menangani pasien penderita Covid-19 di Bumi Projotamansari.

“Anggarannya sampai sekarang sudah terpakai Rp 73,4 miliar, sehingga masih tersisa sekitar Rp 18,5 miliar,” ujarnya.

Pejabat yang juga ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Bantul ini menyatakan hasil refocusing anggaran tidak hanya untuk sektor kesehatan. Melainkan juga untuk penanganan dampak ekonomi dan penyediaan jaring pengaman sosial. Untuk penanganan dampak ekonomi, misalnya, dialokasikan Rp 1,4 miliar.

“Lalu penyediaan jaring pengaman sosial Rp 21,5 miliar,” sebutnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul Agus Budi Raharjo menegaskan, besarnya anggaran yang dialokasikan untuk sektor kesehatan menunjukkan pemkab serius dalam penanganan dan pengendalian Covid-19. Itu, antara lain, untuk sarana prasarana pendukung penanganan virus korona. Misalnya, mobil laboratorium polymerase chain reaction (PCR).

Pembelian mobil seharga Rp 4,6 miliar itu bertujuan agar penularan Covid-19 di Bumi Projotamansari bisa lebih terkendali. Lantaran mobil laboratorium ini memberikan pelayanan tes usap secara door to door. Termasuk di beberapa pondok pesantren yang belakangan menjadi klaster baru.

“Kami bisa langsung jemput bola,” katanya.

Yang tak kalah penting lagi, mobil laboratorium berbasis Toyota Hiace ini dilengkapi dengan teknologi terbaru. Contohnya, mesin scan untuk merekam data kependudukan pasien. Pasien yang akan melakukan tes usap cukup menyerahkan e-KTP. Lantas, data kependudukan itu akan masuk database dinkes.

Menurutnya, pengoperasian mobil laboratorium PCR dilengkapi dengan empat personel. Perinciannya, dua operator laboratorium, satu dokter, dan sopir.

“Satu shift bisa mengambil 128 sampel,” sebutnya.

Sebagai leader sector, pejabat yang tinggal di Panggungharjo, Sewon, ini mengapresiasi keseriusan pemkab. Meski, angka penularan Covid-19 di Kabupaten Bantul tinggi. Gugus tugas mendukung penuh berbagai kebutuhan penanganan pasien. Mulai dari pemenuhan kebutuhan ruang isolasi di RSLKC hingga shelter di ponpes.

Ya, gugus tugas membangun shalter khusus ponpes. Menyusul tingginya penularan Covid-19 di beberapa lembaga pendidikan agama itu.

“Jika amunisi habis, kami langsung mengajukan permohonan. Respons pemkab juga sangat cepat,” pujinya. (*/cr2/zam)

Bantul