RADAR JOGJA –  Orang tua atau wali murid mulai sudah mulai kewalahan membimbing anak-anaknya untuk belajar di rumah. Bahkan, sebagai dari orang tua murid mengizinkan anak mereka bersekolah. Namun, kebijakan tatap muka belum dapat diterapkan di semua kelas.

Wali murid asal Wirokerten, Banguntapan, Bantul Sundari, mengaku mulai merasa kewalahan karena harus membagi waktu antara berjualan dan mengurus tugas dua putranya.  Belum lagi, perempuan 29 tahun ini masih menyusui putri bungsunya.

“Lebih baik di sekolah, kalau di rumah, penalarannya jadi kurang. Di rumah jadi ndablek, kurang maksimal,” keluhnya ditemui di rumahnya kemarin (18/11).

Sundari pun mengungkap, sekitar dua minggu lalu, dia diminta datang ke sekolah anaknya, untuk rapat terkait keberangkatan anak ke sekolah. Dalam rapat itu, mayoritas orang tua menghendaki anaknya datang ke sekolah.  Meskipun hanya dua jam berada di sekolah dan dibagi dalam beberapa kelompok.

“Kalau aku setuju, meskipun kalau terjadi apa-apa sekolah tidak mau bertanggung jawab. Tapi ini belum ada kabar berikutnya lagi, karena Banguntapan masuk zona merah,” sesalnya.

Anak Sundari duduk di kelas dua SD. Menurut Sundari, anaknya pun sudah bosan, menjalani kelas online. Selain itu, anak Sundari juga rindu bertemu teman sekelasnya.  “Anakku sudah ingin ke sekolah,” katanya.

Terpisah, Guru Olahraga SD Kembangsongo, Trimulyo, Jetis, Bantul, Ibnu Syahrul menyebut, sekolahnya menyelenggarakan kelas dengan sistem shifting. Di mana kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Dalam satu kelompok berisi sekitar 8-9 murid. “Itu dari hasil rapat dan menundaklanjuti edaran dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul,” ucapnya.

Kelas shifting pun digelar atas izin wali murid. Ibnu mengklaim, semua wali murid menyetujui digelarnya kelas shifting. “Untuk semua pelajaran di semua kelas,” ujarnya.

Sementara Kepala Disdikpora Bantul Isdarmoko membenarkan, sekolah di bawah dinasnya menggelar kelas shifting. Namun, hanya bagi murid yang diperkenankan oleh walinya. ”Jadi, bukan sebuah keharusan,” jelasnya.

Selain kelas shifting, sekolah juga dapat menerapkan program konsultasi pembelajaran. Program ini diperuntukkan bagi murid yang mengalami kendala memahami materi pelajaran tertentu. “Untuk SD materi baca tukis permulaan, IPA, dan matematika. SMP bisa tambah Bahasa Inggris,” sebutnya. (cr2/bah)

Bantul