RADAR JOGJA – Penggalian potensi terus dilakukan oleh Padukuhan Karangtalun, Wukirsari, Imogiri, Bantul. Padukuhan yang masih akrab disebut Pucung ini memiliki potensi ekonomi memajukan usaha mikro kecil menengah (UMKM) penjualan burung perkutut dan oceh-ocehan.

“Ada 43 peternak burung perkutut di dusun kami,” sebut Dukuh Karangtalun Dewi Imawati ditemui di kediamannya Kamis(19/11).

Selain UMKM penjualan burung, sektor lain yang dikembangkan adalah penjualan kerajinan anyaman bambu. Pemasarannya bahkan sudah ke luar kota, bahkan luar Jawa. “Sudah dikirim ke seluruh Indonesia,” ujarnya.
Memanfatkan keindahan alamnya yang asri, Padukuhan ini pun merambah sektor pariwisata. Kesempatan ini turut digunakan warga untuk menjajakan olahan khasnya, oseng jambu mete dan gudeg bonggol pisang. Kisah sejarah berdirinya Padukuhan Karangtalun pun memiliki nilai tambah tersendiri.

Tokoh masyarakat Padukuhan Karangtalun, Ngadri menuturkan, cikal bakal Karangtalun dimulai dari situs Watu Onggo atau Watu Turonggo. Tempat ini dianggap keramat oleh masyarakat. Sebab dipercaya menjadi tempat menyatunya manusia dengan sang pencipta. “Situs Watu Onggo itu sakral. Bisa kami bilang keramat,” cetusnya.

Kesakralan Watu Onggo pun dapat dilihat dari warna tanahnya yang berbeda. Warna tanah Watu Onggo berwarna merah. Sementara warna tanah di sekitarnya berwarna coklat. “Itu tanahnya kenapa merah, tidak boleh diceritakan. Dulu pernah ada yang bawa untuk penelitian juga nggak bagus,” ucapnya.

Dikisahkan pula, saat berakhirnya Kerajaan Majapahit sekitar 1478. Watu Onggo pun menjadi tempat bertapa pengawal kerajaan Majapahit pada masa kerajaan Brawijaya kelima yang bernama Arya Wangsa. Dia bertugas mencari putra putri Prabu Brawijaya di sekitar selatan pulau Jawa. Berbekal jimat berupa perkutut hitam dan putih, bendera merah putih, payung kerajaan dan beberapa persenjataan. “Arya Wangasa lantas mendirikan Padukuhan Karangtalun,” kisahnya. (cr2/bah)

Bantul