RADAR JOGJA – Digitalisasi dan virtualisasi museum turut dinilai sebagai salah satu opsi, dalam mempertahankan eksistensi museum di tengah pandemi. Selain itu, virtual museum juga dapat menjadi wadah untuk memperpanjang usia koleksi museum yang rentan rusak.

Namun, persoalaan yang ada justru terletak pada kekhawatiran pengelola. Pengunjung yang hadir langsung ke museum, akan berkurang.
Salah satu museum yang berniat merambah dunia virtual adalah Museum Tino Sidin atau yang lebih dikenal Taman Tino Sidin. Museum yang dikelola oleh anak bungsu Tino Sidin, Pancataka Riyati ini dinilai paling rentan pada kerusakan. Sebab media yang digunakan mayoritas adalah kertas.
“Terkait virtual museum, kami belum melakukan. Meski diarahkan ke sana,” ucap Pancaka Riyati atau yang akrab disapa Bu Titik, ditemui usai pertemuan rutin FKMB di museumnya Selasa (17/11).

Persiapan, tengah dilakukan oleh pengelola museum. Seperti membuat materi dan konten untuk mengisi virtual museum. Namun, Bu Titik berharap, virtualisasi tidak mematikan kunjungan langsung ke museum. “Jangan sampai juga kalau virtual, pada nggak kesini. Konten virtual yang disampaikan harus dapat menarik pengunjung ke museum,” harapnya.

Akibat adanya pandemi Covid-19, diakui, kunjungan di Museum Tino Sidin menurun. Bahkan separuhnya. Rata-rata, kunjungan museum ini 1.500-1.600 orang per tahun. Sementara tahun ini per 17 November baru mencapai 700 kunjungan. “Itu saja sudah bagus, kami terdongkrak dengan adanya kompetisi,” ungkapnya.

Museum Tino Sidin menggelar kompetisi lukis on the spot pada bulan Oktober. Melalui kompetisi itu, dijaring 40 peserta. Selain itu, diakui, kompetisi foto museum yang diselenggarakan oleh Disbud Bantul turut menambah jumlah kunjungan. “Ya pengunjung kami kebanyakan dari luar DIJ, seperti Solo atau Jakarta. Kami lebih mengutamakan kunjungan personal yang berkualitas. Dibanding kunjungan rombongan besar. Jadi karena adanya pandemi ini, kami sangat berdampak,” jelasnya.

Sementara Penanggungjawab Litbang IT FKMB RM Donny Surya Megananda tidak khawatir terkait jumlah kunjungan yang akan berkurang dengan adanya virtual museum. “Belum tentu kunjungan langsung ke museum berkurang. Sebab visi misi museum bukan hanya sekedar menjual lokasi. Museum punya rumusan, konten, dan spirit yang tergantung dalam benda koleksinya,” cetusnya.
Sehingga, itu bergantung pada bagaimana cara menyampaikan narasi koleksi. “Paling penting adalah mengkomunikasikan koleksi museum dan spirit koleksi museum kepada pengunjung. Itu virtual museum,” imbuhnya. (cr2/bah)

Bantul