RADAR JOGJA – Pendemi Covid-19 sempat membuat geliat pariwisata terhenti. Namun warga Dusun Pelemadu, Sriharjo, Imogiri, Bantul justru menggunakan momentum ini untuk membangkitkan potensi yang dimiliki. Maka tercetus ide untuk mengembangkan Lembah Sosory sebagai objek wisata.

SITI FATIMA, BANTUL, Radar Jogja

Sosory merupakan akronim berbahasa Jawa, ngisor empring ori, di bawah bambu ori. Karena letaknya di pematang Kali Opak, maka ditambahkanlah kata lembah. Perlu diketahui pula, pematang ini merupakan wedi kengser dengan luas sekitar 5.000 meter persegi. Sebuah daratan yang terbentuk karena endapan material yang terbawa arus kali.

Lembah Sosory menawarkan beberapa wahana, yaitu kolam renang, RTV, dan spot swafoto. Pengunjung hanya dikenakan tiket Rp 5 ribu jika ingin berenang. Untuk menyewa RTV pengunjung dikenakan biaya Rp 10 ribu selama 10 menit. Sementara untuk sekedar berswafoto, pengunjung tidak dikenakan biaya.

Terdapat pula tujuh warung yang menjajakan aneka panganan dan minuman. Namun, makanan khas dari Pelemadu adalah rempeyek. Sebelum pandemi Covid-19, produksinya dapat menghabiskan lima ton tepung per hari.

Ketua Pengelola Lembah Sorory, Sukardi  mengungkap, awalnya lahan di Dusun Pelemadu ini tidak direncanakan untuk dibuat objek wisata. Warga hanya ingin membuat lahan pematang kali menjadi bersih dari sampah.

“Awalnya hanya supaya tempat ini menjadi lebih bersih saja belum ada niatan untuk menjadikan objek wisata,” ujar Sukardi ditemui di Lembah Sorory, belum lama ini. Setelah bersih, suasana obwis yang diresmikan 18 Oktober lalu itu, menarik pengunjung. Untuk menjadikannya lokasi camping ground atau tempat kemah untuk siswa sekolah. Realisasi pertama kalinya pada September 2018.

Lembah Sosory pun pernah menjadi lokasi Jambore se-Kecamatan Imogiri. Jumlah tenda mencapai 40 buah dengan sekitar 400 peserta. Camping ground itu berjalan lancar sekitar 1,5 tahun. Sampai terjadi peristiwa maut susur sungai oleh pelajar SMP di Sleman. Itu berdampak pada pembatalan semua pemesanan camping ground di Lembah Sosory. “Saat itu memang dari dinas juga tidak mengizinkan kegiatan di luar kelas. Terus ditambah Covid-19 jadi sempat tutup total,” jelasnya.

Tidak kehabisan akal, warga justru mengambil momentum peresmian Jembatan Kiringan. Kendati pandemi belum usai, Lambah Sosory memanfaatkan peremian jembatan sekaligus memperkenalkan kembali obwis. Mengusung konsep outbond untuk anak usia TK sampai SD. Warga memanfaatkan pula bambu dan kayu yang tersedia di pematang. Untuk membangun fasilitas. “Kami juga kembangkan, buat kolam dengan mencari investor lokal dari bapak ibu dan anak muda setempat,” ucapnya.

Memperhitungkan biaya, Sukardi berencana menambah wahana permainan tradisional. Sebab dana untuk membuat sarana outbond seperti flying fox dirasa terlalu mahal. Selain itu, pengunjung Lembah Sosory masih terbilang sepi. Hanya pada saat akhir pekan, pengunjung dapat mencapai 500 orang. “Kebanyakan anak-anak dan goweser,” sebutnya.

Selama beroperasi, Lembah Sosory menerapan protokol kesehatan. Di antaranya menerapkan pemeriksaan suhu tubuh di pintu masuk. Pengelola menyediakan tempat cuci tangan dengan sabun dan air mengalir di beberapa titik. “Kami juga selalu menyarankan pengunjung untuk taat pakai masker dan jalani protokol kesehatan,” tegasnya.

Pembuat rempeyek di Pelemadu, Tumirah mengaku saat ini penghasilannya menurun tajam. Sebab dalam satu bulan, dia hanya menggoreng rempeyek selama seminggu. Sementara tiga minggu lainnya, dia harus libur. “Adanya pengunjung, lumayan, ada yang membeli,” syukurnya perempuan 62 tahun itu

Sementara pedagang makanan di Lembah Sosory, Ponilah, 50, mengaku mendapat omset dagangan sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 350 ribu di akhir pekan. “Kalau hari biasa, saya mencari rongsok,” ungkapnya.

Bagi salah seorang pengunjung, Yanti, 45, bertamasya ke Lembah Sosory adalah pilihan yang baik. Sebab wahana di obwis ini murah. Selain itu, juga dekat rumahnya, Pundong, Bantul. “Kami datang rombongan 11 orang. Naik motor rame-rame,” ujarnya. (pra)

Bantul