RADAR JOGJA – Museum belum menjadi destinasi prioritas kunjungan. Kondisi ini diperparah dengan adanya pandemi Covid-19. Beragam upaya dilakukan para pengelola untuk agar geliat museum tetap berjalan.
Ketua Forum Komunikasi Museum Bantul (FKMB) sekaligus Ketua Pengelola Museum HM Soeharto, Gatot Nugroho mengungkap, berangsur-angsur museum di Bantul bangkit. Setelah tutup selama beberapa bulan akibat terdampak pandemi Covid-19. Salah satu museum yang tengah bersiap untuk dapat buka adalah Museum History of Java.

Namun, untuk museum yang dikelolanya sendiri, Gatot menyebut masih terbuka terbatas. Sebab hanya pengunjung yang sudah reservasi saja yang akan dilayani. Tapi, pengelola juga menerima permintaan layanan dari Dinas Kebudayaan (Disbud) DIJ atau Bantul. “Misalnya kalau layanan dalam rangka wajib kunjung museum (WKM),” sebutnya ditemui usai pertemuan rutin RKMB di Taman Tino Sidin, Kasihan, Bantul kemarin (17/11).

WKM biasanya dilakukan oleh siswa dan siswi. Namun, akibat adanya pandemi waktunya disesuaikan. WKM dilakukan oleh guru dan kelompok komunitas. museum yang mampu menerima 500 kunjungan, saat ini hanya menerima 15 orang rombongan WKM. “Program ini dilakukan disbud untuk promosi museum,” ungkapnya.

Selain itu, museum melengkapi diri dengan fasilitas pendukung pencegahan penularan Covid-19. Seperti menyediakan tempat cuci tangan dengan sabun, hand sanitizer, dan thermo gun. “Kami juga diberi bantuan dari disbud untuk disinfektan,” ujarnya.

Terpisah Kapala Disbud Bantul Nugroho Eko Setyanto menyebut, terdapat 15 museum yang terdaftar di dinasnya. Untuk mendekatkan museum dan masyarakat Disbud memiliki beberapa kegiatan. Pertama, lewat pertemuan rutin, untuk mencari masukan dan tukar informasi tentang pengelolaan museum. “Ada juga WKM, tapi saat ini sasarannya masyarakat umum dengan jumlah terbatas,” paparnya.

Disbud Bantul pun turut mempromosikan museum Bantul melalui siaran di televisi dan media cetak. “Kami juga membantu untuk mengkaji tentang pengembangan museum,” ucapnya. Yaitu dengan membantu menangani kemungkinan buruk yang dapat terjadi pada sebuah museum. Sementara untuk memperkenalkan keindahan suatu museum dalam tangkapan kamera, disbud membuat kompetisi foto. Jumlah pesertanya lebih dari 300 orang. Mereka dibagi dalam 15 kelompok. Tujuannya, semua museum yang ada di Bantul akan terpublikasi.

Salah satu peserta yang mengikuti kompetisi adalah Rizaldi Ananda Syahputra. Pemuda 22 tahun ini tertarik mengikuti kompetisi bukan semata tergiur hadiah. Tapi lebih pada penggalian potensi wisata. “Pariwisata yang banyak terekspos saat ini adalah wisata masal. Padahal museum bisa menjadi salah satu alternatif. Sebagai wisata personal. Selain Itu, juga membuat kita mengenali sejarah bangsa,” kata dia. (cr2)

Bantul