RADAR JOGJA – Memasuki musim penghujan, wilayah Bantul diancam oleh berbagai potensi bencana. Jejaring relawan perlu diintensifkan. Selain itu, dilakukan pula pemetaan relawan.

Desa Wukirsari di antaranya, membekali 16 dusunnya dengan handy talky (HT). Selain itu, Pemerintah Desa (Pemdes) Wukirsari juga membuat WhatsApp Group (WAG) penanggulangan kebencanaan. Di dalamnya, tergabung forum pengurangan risiko bencana (FPRB), perlindungan masyarakat (linmas), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). “Jadi otomatis terpantau, kalau membaca WAG. Koordinasi umpama ada tanah longsor, rumah kembrukan, pohon roboh, atau banjir,” sebut Kades Wukirsari Susilo Hapsoro ditemui di kantornya Senin (16/11).

Misalnya saat terjadi pohon tumbang Minggu malam (15/11). Setelah kejadian dilaporkan melalui WAG, bantuan segera datang. Evakuasi pun segera dapat dilakukan karena Pemdes memiliki empat gergaji mesin. “Relawan yang bertugas di lokasi kejadian yang melaporkannya,” ujarnya.

Namun, relawan yang bertugas di lokasi lain juga dapat melaporkan kejadian di luar wilayah pantauannya. Bila ia kebetulan melihat atau berada di lokasi tersebut. “Tergantung siapa yang dekat dan tercepat melaporkan,” cetusnya. Disebutkan, Wukirsari memiliki sekitar 100 anggota Linmas. Wukirsari juga memiliki 80 anggota relawan serta 40 anggota FPRB. “Seandainya hujan, pada keluar memberikan informasi terkait intensitas hujan, kondisi sekitar, dan angin yang menyertai,” imbuhnya.

Terpisah, Camat Imogiri Sri Kayatun mengaku, wilayahnya rawan bencana. Sebab saat musim kemarau, terjadi kekeringan dan kebakaran. Kekurangan air bersih. Sedangkan saat musim penghujan, tanah longsor, banjir, dan pohon tumbang menjadi ancaman. “Sehingga kami berikan anggaran khusus untuk penanganan bencana. Diakomodir dalam anggaran desa,” paparnya. (cr2/pra)

Bantul