RADAR JOGJA – Kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Bantul yang masih tinggi memaksa Stadion Sultan Agung (SSA) harus ditutup dari semua aktivitas. Tapi hal itu ternyata berdampak positif terhadap pemilik warung di sekitarnya.

Sebab pengunjung yang biasanya langsung masuk ke SSA tertahan di depan pintu gerbang. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh warga. Misalnya Darwono, halaman muka kedai makannya cukup luas. Sehingga dapat menampung kendaraan. Pria 50 tahun ini lantas menyediakan jasa parkir. Lepas ashar, pedagang dadakan mulai ramai. Jadi saja ada pengunjung yang memarkirkan kendaraannya di halaman muka kedai Darwono. “Kalau habis ashar, ramai yang berjualan (di depan gerbang SSA),” ungkapnya ditemui di kedai miliknya Minggu (15/11).

Selain itu, ada pula pengunjung SSA yang biasa berolahraga. Mereka tidak dapat membawa kendaraannya masuk. Sehingga harus parkir di depan SSA. Ini juga membuat omset warung Darwono meningkat. “Ya walaupun nggak signifikan, tapi lumayan,” ucapnya tersenyum.

Penutupan SSA, jelas Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi Sulistyono sebagai uji coba. Alasan utamanya adalah adanya lonjakan kasus pasien Covid-19 di kabupaten dengan julukan Bumi Projotamansari ini. “Ini menjadi salah satu pertimbangan, kenapa ada kebijakan (menutup SSA, Red),” paparnya.
Terkait dengan adanya kericuhan di SSA hingga menimbulkan korban, petugas sedang mendalaminya. Dijelaskan pula, kericuhan terjadi antarkelompok. AKBP Wachyu mengklaim, petugas sudah mendamaikan. “Menjelang pilkada, para tokoh saya harap menahan diri. Karena ini situasi pilkada rawan sekali bentrok karena salah paham,” pintanya.

Sementara itu, warga Trimulyo, Jetis, Bantul Ayun Sholihah mengaku sempat khawatir. Terkait aktivitas sunday morning (sunmor) di SSA. Sebab kegiatan itu dinilainya berpotensi menjadi lokasi penularan Covid-19. “Ya akan lebih baik, kalau tutup dulu. Karena aktivitasnya tidak urgent,” ujarnya. (cr2/pra)

Bantul