RADAR JOGJA – Perikanan menjadi salah satu sektor yang bertahan dan cukup stabil selama masa pandemi Covid-19. Bahkan, sektor ini mengalami pertumbuhan.

Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Minahasa menjadi kelompok pembudidaya yang merasakan hal tersebut. ”Terjadi ledakan pemesanan bibit ikan saat pandemi Covid-19. Kan banyak yang di rumahkan, dan nggak kerja, mereka beralih memelihara ikan,” ungkap Ketua Pokdakan Minahasa, Topo Raharjo, Kamis (12/11).

Pokdakan Minahasa sudah memiliki 100 kolam. Kolam pembesaran lele yang diurus oleh 20 anggota. Dengan omset sekitar Rp 5 juta – 6 juta per bulan per anggota. Ke depannya, Topo berharap, pokdakannya dapat berkembang menjadi objek wisata. Seperti wisata kuliner olahan ikan dan wisata edukasi budidaya ikan air tawar.

Hal serupa juga dirasakan di budidaya ikan hias. Salah seorang pembudidaya ikan hias, Ismayadi mengatakan, ikan hias tidak lagi dipandang sebagai hiburan. ”Tapi, mulai dipandang dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari,” katanya.
Ledakan penjualan ikan hias juga sempat dirasakan Ismayadi. Terutama saat awal pandemi Covid-19. Bahkan omset Ismayadi mencapai Rp 4 juta – 7 juta per hari. “Sekarang Rp 1,5 juta – 2 juta per hari. Tapi itu masih lebih bagus dibandingkan sebelum ada pandemi,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (Diperpautkan) Bantul Yus Warseno mengatakan, pertumbuhan sektor perikanan di Bantul sekitar 10 persen. ”Karena kebutuhan pangan di Bantul juga cukup banyak,” jelasnya.

Untuk itu, Yus pun berharap, pengelola sektor perikanan dapat lebih berinovasi. Seperti mengembangkan ke sektor pariwisata. Atau menambah produk budidaya. “Ini bisa jadi alternatif mata pencaharian, ketika sebagian warga kehilangan mata pencaharian,” ucapnya. (cr2/bah)

Bantul