RADAR JOGJA – Kabupaten dengan julukan Bumi Projotamansari menerapkan pembatasan sosial berskala kecil (PSBK) di dua lokasi. Pertama, di Kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Panggungharjo, Sewon, Bantul. Kedua, di Kecamatan Banguntapan, Bantul. Melalui laman resminya, Pemkab Bantul merilis sebanyak 309 pasien terkonfirmasi Covid-19 menjalani isolasi. Sebanyak 195 di antaranya, menjalani isolasi mandiri di ponpes dan RS di kawasan ponpes.

Sekda Bantul Helmi Jamharis menyebut, Pemkab melalui Pemdes Panggungharjo melakukan koordinasi bersama pengasuh ponpes. Ini dilakukan, sebab terdapat beberapa ponpes di Panggungharjo. “Kami sepakat ponpes akan melaksanakan lockdown, dengan tidak lagi mengundang para santri untuk masuk ke area ponpes,” ungkapnya saat ditemui di kantornya, Senin (9/11).

Kebijakan lain yang diterapkan pada ponpes di Panggungharjo adalah melarang kegiatan yang berpotensi mengumpulkan massa, sehingga menciptakan kerumunan. Misalnya kegiatan mujahadah rutin. Untuk sementara, sampai waktu yang belum ditentukan, tidak boleh digelar. “Kesepakatan ini menurut kami sudah menerapkan prinsip lockdown. Santri pun dilarang melakukan mobilitas keluar,” sebutnya.

Oleh sebab itu, diharapkan pengasuh ponpes melakukan pengawasan terhadap santrinya. Utamanya terkait kebutuhan sehari-hari santri. “Namun untuk kebutuhan yang tidak mendesak yang bisa diselesaikan di internal pondok untuk dicukupkan,” pesannya.

Dalam upaya penyembuhan pasien, Pemkab Bantul memanfaatkan RS Umum Veteran Padmasuri dan kompleks ponpes. Santri putra ditempatkan di RS, sementara santri putri tetap di pondok. Tapi berbeda kompleks dengan santri yang sehat. “Tapi kami belum mendapat datanya berapa masing-masing santri yang dirawat di sana,” ujarnya. Kedua lokasi itu dilengkapi fasilitas penanganan Covid-19 seperti ketersediaan dokter, obat, vitamin, dan kebutuhan makan.

Terpisah, Kepala Desa Panggungharjo Wahyudi Anggoro Hadi menuturkan, kebijakan yang dilakukan desanya adalah mengurangi mobilitas. Terutama melarang gelombang kedatangan santri ke ponpes. Setidaknya sampai proses karantina selesai. “Karena prinsip dasarnya jangan ada yang keluar dan jangan sampai orang luar masuk (ke ponpes, Red). Biarkan ini selesai dulu,” cetusnya.

Wahyudi pun mengklaim, Panggungharjo merupakan kawasan ekonomi strategis. Maka kebijakan yang dinilai paling rasional diterapkan di desanya adalah melakukan PSBK hanya di ponpes. Tidak menetapkan PSBK di satu desa. “Kalau PSBK seluruh desa, kami ada di perbatasan kota. Ini melibatkan wilayah antarkabupaten, sehingga menimbulkan kerawanan,” ujarnya.

Saat ini, Pemdes Panggungharjo sudah melakukan dua kali tracing terhadap santri dan pengasuh di ponpes. Esok hari sebanyak 62 pasien akan menjalani asimilasi. Sebab sudah 14 hari menjalani isolasi mandiri. Mereka merupakan pasien tracing tanggal 27 Oktober lalu.

“Mereka akan lepas masa karantina, karena secara medis dinyatakan selesai. Mereka akan menjalani asimilasi, setelah itu akan dikembalikan ke kompleks masing-masing. Kira-kira begitu tahapannya,” papar Wahyudi. (cr2/laz)

Bantul