RADAR JOGJA – Saat bersiap dengan peningkatan status Gunung Merapi, Pemprov DIJ juga masih harus mewaspadai penyebaran Covid-19. Rekor baru jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 kembali pecah di DIJ.

DIJ mencatatkan rekor penambahan kasus tertinggi dalam sehari. Kamis (5/11) ditemui sebanyak 168 kasus positif. Sehingga total kasus positif ssaat ini menjadi 4.140 kasus.  Kabupaten Bantul menjadi penyumbang terbanyak dengan 139 kasus. Sebelumnya belum pernah kasus di DIJ mencapai 100 per harinya.

Juru Bicara Pemprov DIJ untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih menjelaskan, penambahan kasus didapatkan dari upaya kontak tracing yakni sebanyak 150 kasus, skrining karyawan satu kasus, pemeriksaan mandiri empat kasus, perjalanan dari luar daerah satu kasus, serta 12 kasus masih dalam penelusuran. “Kasus aktif saat ini ada 597,” tuturnya Kamis (5/11).

Hasil penambahan itu diperoleh dari pemeriksaan 805 sampel milik 690 pasien. Sehingga total yang sampel diperiksa hingga saat ini adalah 92.139 sampel serta ada 76.351 orang yang diperiksa. Kendati mengalami lonjakan, ketersediaan tempat tidur di RS rujukan masih mencukupi. Tersedia bed kosong lebih dari 50 persen dari total kapasitas yang ada. Saat ini DIJ memeliki ketersediaan 404 bed non critical. Sedangkan 190 diantaranya telah digunakan. “Sehingga tersisa 214 bed,” katanya.

Sedangkan bed critical yang disertai dengan ventilator berjumlah 48. 26 diantaranya digunakan sehingga saat ini tersisa 22 tempat tidur. Berty juga melaporkan penambahan kasus sembuh sebanyak 30 kasus. Sehingga akumulasi kasus sembuh menjadi sebanyak 3.308 kasus. Sejauh ini DIJ mencatatakan tingkat kesembuhan sebesar 82,53 persen.

Di Sleman muncul kembali klaster perusahaan di kawasan Ringroad Utara. Tepatnya di Caturtunggal, Depok, Sleman. “Ya, salah satu perusahaan swasta bergerak di bidang telekomunikasi atau telemarketing. Tepatnya di wilayah Depok III di pojok Ringroad,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo Kamis (5/11).

Dengan adanya kasus tersebut, pihak Dinkes Sleman kemudian melakukan tracing dengan melakukan rapid diagnose test (RDT) kepada 141 karyawan perusahaan tersebut. “Total ada 14 orang yang positif. Tetapi bukan warga Sleman semua, yanh warga Sleman hanya ada enam orang. 14 pasien itu tidak bergejala semua, kecuali yang kasus pertama,” sebut dia.

Untuk langkah berikutnya, pihaknya tidak akan mealkukan tracing ke warga. “Kebetulan dipertokoan, jadi tidak dekat dengan pemukiman. Jadi kami tidak lakukan tracing ke warga,” ujarnya.

Dikatakan, sebenarnya untuk jaga jarak saat kerja sudah diterapkan dan ada ketentuannya yakni 1,5 meter. Namun, yang sulit untuk di monitor adalah ketola jaga jarak pada saat tidak bekerja. “Waktu ngobrol, makan, santai-santai, atau saat masuk parkir, dan sebagainya. Mungkin saja itu pada saat itu terjadi penularan,” lanjut Joko. (cr1/tor/pra)

Bantul