Radar Jogja

Ki Seno Nugroho Alami Penyumbatan Saluran Jantung

Ki Seno Nugroho. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)

RADAR JOGJA – Kabar duka menyelimuti dunia pewayangan Indonesia. Sosok dalang fenomenal Ki Seno Nugroho meninggal dunia, Selasa malam (3/11). Tepatnya 22.10 di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping. Penyebab utama adalah penyumbatan di saluran jantung.

Sang Manager Gunawan Widagdo menceritakan, Ki Seno sempat ada keluhan. Berawal saat olahraga sepeda di kawasan Godean. Saat tengah mengayuh, Ki Seno mengeluhkan nyeri di dada bagian kiri.

BACA JUGA : Gending Ladran Gajah Seno Iringi Kepergian Ki Seno Nugroho

“Kemarin sore (3/11) saat sepedaan belum sampai pulang di tengah jalan sudah terasa sakit dan suruh jemput. Sampai sini (rumah) magrib sudah muntah-muntah dan keringat dingin. Lalu oleh istrinya mbak Agnes Widiasmoro dibawa ke rumah sakit (PKU Muhammadiyah Gamping),” jelasnya ditemui di kediaman rumah duka Dusun Gayam, Argosari, Sedayu, Bantul, Rabu pagi (4/11).

Setibanya di rumah sakit, Ki Seno langsung mendapatkan perawatan di Unit Gawat Darurat (UGD). Gunawan mengisahkan saat itu almarhum masih sadarkan diri. Selang waktu, perawatan langsung dipindah ke ICCU.

Dalam pemeriksaan diketahui bahwa penyumbatan saluran jantung mencapai 100 persen. Kondisi inipula yang membuat kesehatan Ki Seno memasuki batas kritis. Hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pukul 22.10 di ruang ICCU RS PKU Muhammadiyah Gamping.

“Ada penyumbatan di saluran jantung dan ini yang menyebabkan meninggal dunia. Sebenarnya kalau kesehatan bagus, karena beliau rutin olahraga bersepeda,” katanya.

Terkait riwayat sakit, Gunawan membenarkan adanya keluhan yang sama. Ki Seno, lanjutnya, memiliki sejarah penyumbatan saluran jantung. Hanya saja kala itu faktor resiko masih sangat kecil.

“Dulu pernah masuk rumah sakit juga dengan keluhan sama tapi sumbatan kecil dan belum indikasi serangan jantung. Sudah perawatan tapi memang beberapa bulan sempat kambuh lagi,” ujarnya.

Gunawan juga tak menampik jadwal sang dalang lumayan padat. Terbukti dalam bulan ini hampir penuh tanggap hingga akhir bulan. Hanya saja tetap ada waktu libur. Setidaknya dalam seminggu ada dua hari libur.

Waktu libur inilah yang dimanfaatkan Ki Seno untuk mengistirahatkan tubuhnya. Untuk menguatkan stamina, sang dalang kerap berolahraga bersepeda. Rute yang ditempuh melintas kawasan Bantul, Sleman bahkan hingga Kota Jogja.

“Kelelahan mungkin iya, karena habis olahraga sorenya. Tapi memang kebiasaannya olahraga sore. Jadwal sebulan ini penuh, mau tidak mau menjelaskan ke penanggap agar bisa memahami dan mengerti keadaan saat ini,” katanya. (dwi/ila)