RADAR JOGJA – Debat publik putaran pertama Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bantul dinilai normatif. Dalam debat, kedua calon Bupati banyak memainkan ide dan citra diri atau pesona. Namun, minim gagasan inovasi setelah terpilih.

”Secara normatif kita ingin akan ada pertukaran ide dan gagasan yang kuat. Tapi tadi tidak banyak muncul,” sebut Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol), Universitas Gadjah Mada (UGM) Nanang Indra Kurniawan ditemui usai nobar debat publik putaran pertama Pilkada Bantul Rabu malam (28/10).

Kedua calon tidak cukup mengeksplorasi tentang gagasan lima tahun ke depan. Di mana banyak hal yang berubah akibat Covid-19 yang menyebabkan krisis ekonomi. “Tidak ada ide yang inovatif untuk membayangkan lima tahun ke depan Bantul akan seperti apa,” jelasnya.

Menurutnya hal tersebut terjadi karena kedua calon Bupati Bantul cenderung bermain aman. Nanang, lantas menduga, kedua kandidat sedang melakukan pertarungan strategi. Di mana satu kandidat menampilkan pesona dan yang lainnya melawan dengan ide.

Kendati begitu, Nanang menilai kandidat nomor satu relatif mampu mengidentitifikasi masalah. Berikut menawarkan solusi yang jelas, walau secara makro. Sementara kandidat nomor dua cenderung story telling. “Melihat kebelakang yang sudah dilakukan. Tanpa melihat secara kuat apa yang akan dilakukan setelah kembali terpilih,” ujarnya.

Peneliti dan Analis Kebijakan Sunaji Zamroni menyebut, kandidat nomor satu mampu menampilkan gagasan. “Idenya terdisplay, karepe ono (tujuannya jelas),” cetusnya.

Isu debat yang menurut Sunaji menarik, ketika terjadi mismatch atau ketidakcocokan. Di satu sisi, kandidat nomor dua selalu menggelorakan anti korupsi. Tapi nomor satu memandang korupsi itu multilapis. “Korupsi tidak harus diproses di jaksa dan pengadilan. Tapi ada korupsi yang terselubung. Itu ingin dibuka. Tapi nomor satu selalu membuat benteng dengan penghargaan dan hadiah. Bahkan KPK dikapitalisasi dengan hadiah mobil dari KPK,” kata Sunaji.

Sementara Ketua Forum Peduli Demokrasi Bantul (Fordek) Didik Rohadi menilai kedua kandidat belum sanggup melepas keterikatan. Di mana kedua kandidat masih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Bantul. “Semoga debat ke depan bisa mempertajam visi dan misi dalam memajukan Bantul,” harapnya. (cr2/bah)

SITI FATIMAH/RADAR JOGJA
NOBAR : Suasana menyaksikan debat bersama yang digagas oleh Fordek di Homestay Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul (29/10).

Bantul