RADAR JOGJA – Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) selalu dipadati warga tiap sore. Terutama saat akhir pekan. Beberapa rombongan pemuda duduk-duduk di tepi jalan. Menanti angin berderu lebih kencang. Sebagian lainnya menjereng layangan. Baru mengudara setinggi tiga meter selama beberapa detik, layangan jatuh. Menyampar penonton yang hadir, pedagang, atau kendaraan yang berlalu lalang. Yang sedang coba diterbangkan mayoritas pemuda di JJLS itu adalah layangan naga.

Layangan naga memang sedang digandrungi. Terutama bagi kalangan pemuda. Layangan dengan panjang bisa mencapai 80 meter ini asli Indonesia. “Awalnya dari Indonesia perkembangan gitu, menyangkut geografis dan budaya,” ungkap pengurus Talikama atau Perkumpulan Pegiat Layang-Layang Nusantara R Setyo Aji dihubungi Radar Jogja Senin (26/10).

Tidak diketahui pasti kapan layangan ini kali pertama diciptakan. Tapi Aji menyebut layangan naga sangat cocok diterbangkan di pesisir. “Itu layangan pesisir, karena layangan membutuhkan angin besar. Makanya cocok diterbangkan di pesisir,” jelasnya.

Kendati begitu, euforia masyarakat dalam memainkan layangan naga dikritik oleh Aji. Sebab landasan yang dipilih untuk menerbangkan layangan tidak aman. “Bahaya dimainkan di sepanjang jalan. (Saat mendarat layangan, Red) menyangkut orang, tiang listrik, dan kendaraan,” ungkapnya.

Aji mengklaim, sudah memberitahu pemerintah. Untuk mencari solusi terkait bahaya menerbangkan layangan naga di JJLS. “Tapi hanya diimbau, pemerintah tidak menangani dengan serius. Kalau ada kejadian, baru (melakukan tindakan, Red),” ketusnya.

Memainkan layangan naga, dibutuhkan lahan yang bebas dari hambatan. Terutama kendaraan, baik di darat dan udara, malam atau siang. Yang harus dihindari, terbebas dari lalu lintas darat dan udara. “Minimal pemerintah harus memberikan sirkuit, lahan, tempat, atau arena. Untuk bermain layangan,” sebutnya.

Selain itu, protokol keselamatan (prokes) harus diperhatikan. Sebab panjang layangan dapat mencapai 80 meter. “Belum talinya. Protokol keselamatan menerbangkannya harus diperhatikan. Jangan sampai miring, bendera-benderanya itu. Jangan sampai tersangkut. Itu bahaya sekali,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) Bantul Kwintarto Heru Prabowo menyebut, kegiatan layang-layang merupakan salah satu daya tarik. Potensi ini perlu dirawat. “Hanya saja, kami sampaikan kegiatan tetap mematuhi protokoler kesehatan, karena pandemi Covid-19 belum usai,” pintanya.

Kwin menilai, bermain layangan adalah salah satu bentuk hiburan masyarakat. Tapi kegiatan jangan sampai mengakibatkan dampak butuk. Akibat tidak menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. (cr2/laz)

Bantul