RADAR JOGJA – Tim search and rescue  satuan perlindungan masyarakat (SAR Satlinmas) belum mendapat instruksi resmi terkait La Nina. Tapi petugas tetap menjaga kewaspadaan. “Belum ada pemberitahuan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), tapi kami selalu berjaga selama 24 jam,” ujar Komandan Regu I SAR Satlinmas Wilayah III Dedi Purwanto ditemui di posnya Minggu (25/10).

Petugas sedang fokus pada pemantauan aktivitas wisatawan. Sebab ombak dinilai sedang tinggi. Akibat adanya perubahan cuaca. “Yang diwaspadai gelombang pasang, dengan kisaran 2-3 meter. Kalau purnama, jadi lebih tinggi,” ungkapnya.

Pesisir Bantul memiliki dua pos SAR Satlinmas. Pos pertama menjaga Pantai Parangtritis dan Depok, Letaknya di Pantai Parangtritis. Pos ini memiliki empat pos pantau. Sementara pos lainnya di Cemara Sewu. “Saat ini terkait kendala di early warning system (EWS), sirine tsunaminya sempat mati. Kurang tahu sudah diperbaiki atau belum,” ujarnya.

Senada, Koordinator SAR Satlinmas Wilayah IV Dwi Rias Pamuji menyebut timnya belum menerima sosialisasi resmi terkait La Nina. Tapi dia mengaku tahu adanya prediksi fenomena La Nina. Untuk itu, dia dan timnya mengantisipasi dengan menyebarkan informasi kepada warga pesisir. “Jadi mereka sudah ada kewaspadaan,” jelasnya. Petugas turut memasang rambu larangan. Agar wisatawan tidak berenang di pantai.

Kepala BMKG Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) Agus Suryanto membenarkan, sirine tsunami di Pantai Parangtritis mati. “Sampai saat ini, semua berfungsi, hanya satu yang dalam upaya perbaikan. Kami harapkan akhir tahun ini semua bisa difungsikan kembali,” ujarnya.

Selain itu, BMKG bersama dinas terkait menyiapkan sarana dan prasarana mitigasi bencana hidrometeorologi. Alat monitoring yang terpasang di Bantul diklaim sudah sangat rapat. Mulai dari penakaran hujan, observasi, EWS, bahkan pendeteksi gempa bumi. “Yang baru ada radar tsunami, itu upaya dari BMKG untuk hadir di pemerintah kabupaten,” cetusnya. (cr2/bah)

Bantul