RADAR JOGJA – Untuk memberikan pendidikan kesehatan reproduksi (kespro) dan pengurangan nyeri pre menstruation syndrome (PMS) pada remaja putri, Dosen Prodi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo) yang tergabung dalam tim pengabdian kepada masyarakat memberikan penyuluhan tentang terapi komplementer sebagai alternatif solusi meringankan Sindrom pramenstruasi atau PMS pada remaja putri.

Kegiatan yang berupaya menggerakkan dan mengaktifkan remaja putri ini, dilaksanakan di Pedukuhan Dhuku, Desa Jambidan, Banguntapan, Bantul, secara daring Senin (5/10), dan luring Sabtu (17/10). Dengan Ketua Listia Dwi Febriati, SST, M.Kes, dan anggota Puspito Panggih Rahayu, SST, M.Kes, bersama mahasiswa Eka Khusnul Qkhotimah. Didukung oleh Dukuh Dhuku Arik Setiawan, dan menggandeng pakar jamu herbal yaitu Apt Indrawati Kurnia Setyani M Pharm Sci.

Listia menuturkan, sebelum menstruasi, umumnya akan muncul berbagai keluhan PMS. Biasanya sakit kepala, kram perut, dan perubahan suasana hati. Gejalanya muncul 1-2 minggu sebelum hari pertama menstruasi setiap bulannya.

“Munculnya gejala yang melanda fisik dan mental ini belum dapat dipastikan apa penyebabnya, tetapi diperkirakan karena adanya perubahan hormon selama masa menstruasi. Yaitu hormon estrogen dan progesteron,” tutur Listia.

Menurut Listia, terapi Komplementer merupakan salah satu alternatif solusi yang bisa digunakan untuk mengatasi PMS. Jenis yaitu aromaterapi, akupuntur, pijat, yoga, dan penggunaan bahan herbal. “Kebetulan di sini, berdasarkan hasil survei diperoleh informasi perlu diadakan kegiatan yang bisa meningkatkan pengetahuan dan kemandirian remaja putri. Kali ini mengenai kespro, dengan fokus menstruasi,” ujar Listia. (*/pra)

Bantul