RADAR JOGJA – Selama masa pandemi Covid-19, sejumlah pendonor rutin masih takut datang ke Palang Merah Indonesia (PMI) Bantul. Akibatnya, distribusi darah menjadi tidak efisien.

Keluarga pasien yang membutuhkan darah, kini harus mencari sendiri pendonor. Sementara calon pendonor yang dibawa, belum tentu layak.

“Saat reanamnesis (riwayat kesehatan,Red) tidak bisa mendonorkan darah, keluarga kan jadi cari lagi,” keluh Teknisi Unit Transfusi Darah PMI Bantul Novia Wulandari, 30, ditemui di kantornya Selasa (20/10).

Diungkapkan keluarga pasien kerap mengajukan calon pendonor pemula. Calon pendonor ini, belum pernah mendonorkan darahnya. Sehingga saat dilakukan anamnesis, ada kemungkinan calon pendonor tidak memenuhi syarat. ”Akibatnya, keluarga pasien harus mencari calon pendonor lain,” jelasnya.

Pendonor hasil rekrutmen PMI,  disebut pendonor rutin. Sebab dua bulan sekali, mereka disarankan untuk mendonorkan darah. Pendonor rutin pun sudah melalui proses seleksi. Sehingga, PMI sudah memiliki anamnesisnya.

Padahal, di masa pandemi seperti saat ini, PMI Bantul tidak kekurangan stok darah. Kebutuhan sekitar 700 kantong darah per bulan dapat dipenuhi. Hanya, kebutuhan tersebut dipenuhi oleh keluarga pasien, bukan di stok PMI yang berasal dari pendonor rutin.

Diakui, stok darah PMI terkendala oleh berkurangnya kegiatan mobile donor. Saat ini, PMI hanya mampu mendatangi 3-4 lokasi saja. Padahal, sebelum pandemi, PMI biasanya mendatangi minimal 20 lokasi. “Mulai jalan sekitar sebulan, karena tidak boleh berkerumun,” ungkapnya.

Dia berharap pendonor rutin kembali mendonorkan darahnya. Sebab PMI menerapkan protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19 dalam kegiatannya. “Kami menggunakan APD, disediakan pula tempat cuci tangan,” sebutnya. Tapi, pendonor juga diminta untuk datang menggunakan masker. Serta dalam dua minggu sebelumnya tidak melakukan perjalanan yang berisiko. “Masyarakat jangan takut donor, yang penting tetap sesuai protokol Covid-19,” tegasnya.

Terpisah, Humas RSUD Panembahan Senopati Siti Rahayuningsih mengklaim RS-nya tidak pernah kekurangan darah. Sebab, RS disuplai oleh PMI Bantul dan PMI Kota Jogja. “Kami sudah kerjasama, belum pernah stok kosong,” ujarnya. (cr2/bah)

Bantul