RADAR JOGJA – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi terjadinya fenomena La Nina di Jogjakarta. Fenomena tersebut diperkirakan terjadi pada Oktober-Desember.

”Tahun ini ada tambahan khusus (La Lina, Red),” sebut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto kemarin (13/10).

Dijelaskan, La Nina kerap terjadi. Anomali sistem global berulang sekitar dua sampai tujuh tahun sekali. Fenomena ini mengakibatkan angin bertiup lebih kencang. Selain itu, membuat intensitas curah hujan semakin tinggi. “Otomatis, potensi banjir dan longsor semakin tinggi. Ini harus kita waspadai,” tegasnya.

Untuk itu, Dwi meminta warga Bantul untuk waspada. Terlebih posisi wilayah yang dijuluki Bumi Projotamansari ini berbatasan dengan samudra. Sehingga, dipastikan terdampak fenomena La Nina. Dwi pun mengimbau warga untuk membersihkan sungai. Serta melakukan penebangan pohon dan ranting yang rentan roboh. “Untuk mengantisipasi La Nina, agar (warga, Red) tidak terlalu berdampak,” pesannya.

Terpisah, Koordinator SAR Satlinmas Wilayah IV Dwi Rias Pamuji menyebut timnya belum menerima sosialisasi resmi dari BPBD. Tapi dia mengaku tahu adanya prediksi fenomena La Nina. Untuk itu, dia dan timnya mengantisipasi dengan menyebarkan informasi kepada warga pesisir. “Jadi mereka sudah ada kewaspadaan,” cetusnya. Petugas turut memasang rambu larangan. Agar wisatawan tidak berenang di pantai.

Sementara Pengelola Pasar Kebon Empring Titik Ailuh mengaku tidak khawatir. Sebab dia sudah menjalin koordinasi bersama komunitas sungai. Disadari, lokasi wisata yang dirintisnya sejak 2017 ini berada di pematang sungai hilir. Sehingga kerap mendapat kiriman banjir. “Jadi kami menjalin komunikasi dengan komunitas di hulu. Kalau mendung pasti saling mengabari. Jadi yo rodo aman, karena ada komunikasi,” ucapnya.

Upaya mitigasi juga dilakukan dengan rutin bersih sungai. Selain itu dilakukan penanaman tumbuhan di tepi sungai. ”Tujuannya mencegah tanah longsor saat banjir menerjang sungai,” jelasnya. (cr2/bah)

Bantul